Konsistensi para ulama sufi dari masa ke masa adalah melawan para penguasa (baik yang formalnya seorang muslim maupun nonmuslim) yang melakukan pelanggaran mendasar atas nilai-nilai ketuhanan dalam pengelolaan manusia dan alam.

Makanya jabatan para ulama sufi di masa lalu tidak mungkin jadi penguasa. Mereka paling tinggi menjadi qadhi (hakim) negara (misal Syekh Junaid al Baghdadi). Itu pun jika mereka berseberangan dengan penguasa, mereka akan segera disingkirkan dan diganti para fuqaha yang bisa mencari-carikan dalil legitimasi tindakan pengusa.

Hari ini, istilah sufi dan tasawuf sendiri sudah merupakan hal pinggiran dalam mainstream umat Islam, bahkan ada yang dikomoditaskan. Umat Islam lebih senang bergumul dengan yang ringan-ringan saja dalam ritual formal keagamaan. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi para penguasa yang ingin tetap melanggengkan kekuasaannya, ditambah lagi para pedagang yang ingin tetap menguasai pasar. Sebab penguasa dan pedagang tinggal menggerakkan para fuqaha yang “lugu” untuk mengatur agar rakyat tertib mengikuti anjuran taat pada penguasa dan membeli produk-produk “halal”.

Apalagi di Indonesia, keadaan genting terkait peradaban ini dislamurkan dengan adanya demokrasi mbuh-mbuhan dan adu domba seputar kubu Jokowi dan Prabowo. Padahal mau Jokowi atau Prabowo yang jadi, yang akan mereka hadapi di pemerintahan adalah kekuasaan oligarki yang sudah eksis sejak zaman Orde Baru berdiri. Para oligarki ini tidak hanya memegang ubun-ubun para penguasa, tetapi juga menguasai sumber daya ekonomi rakyat. Sehingga cerita-cerita adanya sekelompok orang super kaya di negeri ini bukanlah hoax apalagi mitos. Orang-orang super kaya ini memiliki akses kendali sesuai bagian yang mereka masing-masing dalam mengeksploitasi negeri ini.

Tapi, toh siapa yang percaya bahwa keadaan negeri ini sedang genting dalam darurat materialisme – kapitalisme. Wong mayoritas orang di negeri ini memang mengejar itu semua. Bahkan semakin terlihat taat beragama pun, tujuan akhirnya ya bergabung dalam sistem besar global ini. Jadi mau apa lagi kita? Selain hanya ngopi dan menikmati orkestrasi besar kehidupan yang dianugerahkan Tuhan ini. Sebab mungkin saat ini peran kita cukup seperti itu sambil sedikit-sedikit mengili hidung dengan bulu halus agar sadar bahwa bersin itu nikmat.

Surakarta, 12 September 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.