Selama debatnya cuma seputar Jokowi atau Prabowo, selama itu pula para bandar dan oligarki akan senang.

Apalagi jika rakyat mindsetnya ala-ala ratu adil, yaitu percaya bahwa ada seorang diri yang bisa memberesi sesuatu, entah yang satu sangat percaya pada Jokowi, yang satunya sangat percaya pada Prabowo.

Saya yakin, siapa pun mereka yang jadi pasti ya akan preketek jika sistem oligarkinya tetap. Di zaman Jokowi, terbukti beliau tidak mampu melawan kekuatan oligarki ini, sehingga sekian banyak janji kerakyatannya tidak ditunaikan. Apakah karena beliau jahat seperti yang digambarkan pembenci Jokowi? Tidak juga. Seandainya Prabowo yang jadi, masalah yang akan dihadapi tetap sama kok. Oligarki kekuasaan.

Meruntuhkan oligarki yang dibangun oleh Orde Baru butuh kebersamaan rakyat yang tidak terbuai demokrasi elektoral. Sebab rakyat harus bahu membahu mengambil alih kedaulatannya di bidang politik dan ekonomi. Sekarang perekonomian kita dalam kendali oligarki yang rumit dalam kontestasi perebutan dominasi Barat dan Timur. Di bidang politik kita berhadapan dengan mayoritas politisi yang mentalnya makelar, visinya keuntungan, dan kerjanya nggedebus.

Jika rakyatnya hanya terus udur soal capres, padahal itu masalah privat di bilik suara, maka jangan nangis kalau nanti banyak kehancuran lingkungan, penggusuran, hingga kemiskinan yang menggila akibat krisis. Kelas menengah yang nyaman jadi cebong maupun kampret karena memang hidup mereka disangga oleh sistem oligarki entah dalam wujud beasiswa atau jaminan hidup yang lain. Lha kalau rakyat bawah? Mosok arep melu ngeden-ngeden mbela para elit itu, wong uripe we rekasa diinjak-injak oleh kekuasaan para pemodal gini og. Tapi jebul ya banyak yang terbuai dengan game politik lima tahunan itu hingga harus saling bertengkar di warung kopi. Gila kan.

Surakarta, 31 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.