Ketika di kampus saya memang terlibat aktivisme ala-ala anak muda. Gairah untuk latihan ikut-ikut berpolitik tinggi. Sebab memang pada dasarnya kita ingin perubahan yang lebih baik.

Pasca kampus dan terjun ke masyarakat, jebul problem utamanya adalah bangsa yang besar ini kekurangan rakyat. Jumlah segini besar isinya adalah sekumpulan tim hore-hore. Tim hore-hore yang paling militan labelnya adalah CEBONG dan KAMPRET. Rakyatnya segelintir saja. Mungkin 1 dari 100, bahkan ada 1 dari 1000.

Yang lebih konyol lagi, ustadz, kiai, profesor, doktor, magister, dan sarjana mendadak jadi pekok musiman. Entah gimana cerita asal mulanya, mereka-mereka yang sebenarnya memiliki karunia ilmu dan bisa menjadi penjaga akal sehat publik justru banyak yang mempertontonkan kelucuan-kelucuan pait dalam sikap partisannya. Bukan hanya wagu, tapi bikin eneg.

Seorang profesor teknik yang sangat teliti dan hati-hati dalam membuat keputusan-keputusan teknikalnya untuk setiap proyek, di lain waktu bisa menjadi CEBONG militan yang mengerikan. Bukan saja memperlihatkan ketololannya, tapi juga lupa dengan metode berpikir ilmiah yang digelutinya selama ini. Demikian pula tokoh-tokoh agama, ada juga yang jebul mengambil peluang di tengah potensi besar umat yang dikelolanya.

Publik kita gaduh karena kekurangan rakyat. Sebab jika bangsa yang besar ini populasinya rakyat juga besar, maka perhelatan politik itu bukan sesuatu yang wah. Biasa saja. Apa menariknya sebuah sistem pemilihan pembantu sehingga harus dirayakan sampai dengan bertengkar. Kan lucu sekali juragan-juragan bertengkar soal siapa yang layak jadi kepala para pembantu mereka. Tapi itu nyata terjadi di negeri ini.

Dengan alasan itulah, saya memilih menjadi rakyat. Dan mengajak siapa pun anak-anak bangsa Indonesia untuk menjadi rakyat. Karena aturan demokrasi yang berlaku saat ini dalam penyaluran mandat dengan datang ke bilik suara, ya datang saja ke sana. Semua dijamin kerahasiaannya. Rakyat lebih perlu mengawal program, bukan pro-proan dan anti-antian sama politisi.

Kalau rakyat seakan-akan banyak memprotes dan mengkritik pemerintah, itu karena pemerintahnya memang banyak melakukan kesalahan. Dan pemerintahan yang berjalan ini kan jelas-jelas banyak melakukan blunder, wajar jika diprotes. Tapi kalau harus diteriaki untuk ganti presiden, mbok ga usah koar-koar, pas 2019 coblos saja rival presiden yang sekarang. Senyap tapi jitu.

Salam rakyat. Rakyat ora mungkin buka-bukaan pilihannya.

Surakarta, 26 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.