Dahulu banget, seingat saya Sujiwo Tejo pernah mengungkapkan, orang yang sewot ketika ada temannya mengkritik pemerintah dengan ejekan “, ngritik thok, tapi tidak memberi solusi” berarti dia gagal paham tentang peran.

Kemudian saya dapat pencerahan dari Prof. Gaffar, bahwa memang rakyat itu ya tugasnya mengawasi, mengkritik, nyinyir yang sadis tapi tepat sasaran dengan analisis yang tajam. Karena ketika para politisi dilantik secara legal menjalankan pemerintahan (baik berposisi eksekutif, legislatif, dll) mereka adalah penerima mandat rakyat, alias “pelayan rakyat”.

Menjadi rakyat yang seperti ini hanya bisa kita lakukan jika kita tidak baperan dalam ikatan-ikatan primordial semacam parpol, sealmamater, sejamaah, seormas, dll. Makanya ketika sekarang muncul fenomena anti Jokowi tapi pro Anies, atau anti Anies tapi pro Jokowi, orang-orang yang kayak gitu berarti gagal paham jadi rakyat. Wong mereka sama-sama penerima mandat, kok kita pilih kasih, satu disembah-sembah, satunya dicaci maki.

Apalagi yang suka menyerang sesama rakyat dengan “mengkritik kok tanpa solusi.” Lho, kan para penerima mandat itu diberi hak keuangan dan hak kekuasaan sebesar itu memang agar mencari solusi dan mengatasi masalah. Digaji tinggi, difasilitasi ini itu, dikawal macam-macam, disediaan berbagai kebutuhannya kan memang agar menemukan solusi dari masalah besar ini. Kok minta solusi dari rakyat. Kan pekok. Lebih pekok lagi rakyat yang mengejek rakyat lainnya untuk memberikan solusi. Pekok kuadrat. Lha ngopo ndadak gawe pemerintah.

Kalau rakyat bawah yang kurang wawasan dan kalau disuguhi tampilan merakyat atau kata-kata penuh filosofis njuk kepincut sama para politisi itu sih masih bisa dimaklumi. Lha kalau para profesor, doktor, master, dan para sarjana masih mengedepankan rasa emosional dalam dukung mendukung para politisi, bahkan lebih suka memanfaatkan kesempatan untuk meraih keuntungan demi kepentingannya sendiri kan ini yang merusak tatanan kehidupan kita bersama. Golongan kelas menengah yang hanya sibuk dengan nafsunya sendiri inilah yang merusak tenun kebangsaan kita.

Saya heran dengan teman-teman yang berpendidikan tapi hobi memuja muji tanpa ampun pada Jokowi, Anies, Susi, Luhut, Ganjar, atau siapa pun yang jadi bagian dari kekuasaan saat ini. Apalagi yang memuja A sambil mencaci B atau sebaliknya. Yang suka kayak gini janjane piye ya logikane. Apalagi jadi aparatur sipil negara, tapi malah main politik praktis. Politik tingkat tinggi para aparatur sipil negara itu ya kerja keras menjalankan tugas di pos-posnya masing-masing agar rakyat terlayani. Bukan malah memanfaatkan kedudukannya untuk melakukan kerja-kerja politik praktis.

Ini soal kesadaran aturan main. Permainan itu pasti mengandung konsekuensi menang dan kalah. Tapi permainan akan indah jika berjalan sesuai dengan aturan main. Nah, kita saat ini susah untuk mengikuti aturan main. Sebab mayoritas kita itu ingin menang sambil berprasangka buruk bahwa rival kita itu curang, sehingga kita pun merasa sah untuk ikut berbuat curang. Agar apa? Agar menang.

Surakarta, 26 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.