Pemerintahan sekarang dengan era Orde Baru sebenarnya punya kemiripan dalam orientasi pembangunannya. Cuma beda zaman dan regulasi perangkatnya saja.

Pak Presiden sekarang yang diece klemar-klemer itu, sejauh yang saya tahu punya strategi cantik yang sering tak terduga. Sebagaimana Mbah Mesem di zamannya, beliau yang sekarang juga mampu membaca nalar publik yang berkembang, terutama yang sejalan dengan orientasi ekonominya.

Zaman sekarang tidak perlu adanya pembungkaman secara frontal, karena sudah ada medsos. Toh lawan politiknya yang teriak kencang biasanya kritiknya juga konyol. Cukup yang kritiknya brilian-brilian dilokalisir dan dimainkan sehingga nalar publik tetap aneh kayak sekarang ini.

Birokrasi sipil dan tentara tetaplah dua pilar politik pemerintah yang akan dipelihara sebaik-baiknya. Asal dua pilar itu stabil dan kondusif, pemeritahan akan berjalan lama. Nalar publik di zaman now lebih mudah diacak-acak karena bangsa kita itu mudah mengalami amnesia massal kok. Baru kemarin kejadian besok juga lupa. Nanti rame paling sebulan dua bulan, nanti ganti lagi.

Yang ditakuti pemerintah bukanlah gerakan-gerakan perlawanan terorganisir. Karena itu sangat mudah dibaca dan diantisipasi. Yang sangat ditakuti adalah tumbuhnya individu-individu brilian yang merdeka dan tidak masuk dalam asosiasi perkubuan yang dibangun untuk menjaga stabilitas. Mereka susah dikendalikan karena memang tidak mengganggu secara jangka pendek, tapi mereka menyimpan bola perubahan mengerikan yang menggelinding di masa depan.

Individu-individu ini sudah selesai dengan dirinya. Mereka tidak punya urusan dengan wacana-wacana nation state, demokrasi, monarki, atau yang begituan. Konstelasi keyakinannya adalah Tuhan memberinya mandat mengelola bumi. Ada yang menekuni pertanian, mikrobiologi, elektronika, dll. Mereka menemukan berbagai rahasia ilmu-Nya yang tidak laku di pasar monopoli global. Penemuan mereka sebisa mungkin gratis dan diadopsi publik. Tapi itu relatif tidak mereka lakukan, karena publik juga banyak yang tidak percaya.

Dan kerusakan-kerusakan bumi yang parah hari ini, kelak akan diseimbangkan lagi. Apa susahnya bagi bumi untuk mereset ulang, sekarang dia sedang menunggu titah-Nya.

Gondangsari, 19 November 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses