Dalam sebuah forum yang diinisiasi oleh Presiden Soeharto dalam rangka membonsai kedaulatan para ulama untuk membentuk MUI, Kiai As’ad Syamsul Arifin (murid Syaikh Kholil Bangkalan, beliau (syaikh Kholil) adalah marja’ para ulama besar Nusantara di masa kebangkitan nasional, gurunya para kiai besar di tanah air, termasuk KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari) beliau bangkit dan dengan tegas berkata, “saya bukan seorang ulama” seraya pergi meninggalkan forum.

Ulama itu gelar spiritual, diangkat oleh Allah, disematkan di hati orang-orang beriman yang mengetahui keluhuran dan kemuliaan. Bukan produk negara dan propaganda media. Dengan dibonsainya istilah “ulama” dalam wacana modern, maka yang paling bernasib ngenes adalah MUI yang sekarang. MUI sekarang memang bukan lagi tangan kanan legitimasi pemerintah, tapi kenangan sejarah dan blunder yang sering digoreng wartawan jadi berita empuk sebagai bahan ejekan membuat umat mengalami miskonsepsi terhadap konsep ulama itu sendiri. Sudah MUI-nya diplekotho tidak karuan, umat Islam tercerai berai pemahamannya.

Lha kalau umat sudah bingung mengidentifikasi siapa sejatinya ulama mereka, tidak perlu heran jika sekarang umat Islam gelut, debat pada hal-hal yang bukan otoritasnya, rebutan pangan, rebutan kursi, rebutan terkenal. Di tengah suasana itu, para ulama hanya bisa berlinang air mata, karena beliau tidak bisa dikenali oleh umat yang terpukau medsos, TV, dan media-media tipu. Umat sudah susah mengenali mereka. Mereka terus berdoa agar Allah menangguhkan azab-Nya untuk negeri yang sudah dipenuhi kerusakan di segala bidang ini. Ketawadhuan mereka membuat kami menangis, merekalah sebaik-baik teladan umat, dalam kesederhanaan, kemandirian, kewiraan, dan keberanian. Merekalah sebenar-benar pewaris Nabi.

Juwiring, 27 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.