Timbulnya madzhab dalam Islam itu keniscayaan, dengan catatan madzhab yang saya maksudkan ini adalah tafsir pengamalan ajaran-ajaran Islam dalam fikih ibadah mahdhah dan muamalah.

Simulasinya begini. Apa semua sahabat itu standby bersama Rasulullah sampai wafat? Bagaimana dengan sahabat yang mendapat pelajaran Iman dan Islam sebelum Rasulullah wafat, terus dia ditugaskan ke suatu tempat dan tidak lagi berjumpa dengan Rasulullah untuk melakukan apdet informasi? Umat Islam yang didakwahinya tentu akan mendapatkan warna Islam berdasarkan kemampuan ijtihad sang sahabat itu.

Lha rumangsamu jaman kuwi ana WA karo Messenger. Terus sahabat yang dari Madinah mengupdate info kepada sahabat yang sudah ditugaskan untuk berdakwah nun jauh di sana, “Bro, ada kabar terbaru dari Rasulullah, bahwa begini begitu”. Kamu kira Islam itu lantas statis dalam warna sak klek semacam itu? Mikirlah, dulu abad VI masehi, jangankan SMS, wong huruf baku saja belum jelas. Kamu kira tulisan Arab zaman itu sudah indah seperti khat Naskhi di mushafmu yang dibeli dari penerbit-penerbit modern yang warbyasah dalam berdakwah itu?

Wong penanggalan Hijriyah aja baru dirumuskan di zaman khalifah Umar bin Khattab. Istilah “aqidah” sebagai tafsir atas keimanan kepada Allah baru muncul belakangan di kitab-kitab para ulama, konsep madzhab 4 yang termasyur baru muncul sekian ratus tahun pasca wafatnya Rasulullah, munculnya konsep tasawuf jauh lebih belakang lagi dibandingkan masa hidup Rasulullah. Apa mereka berijtihad semacam itu atas WA dari Rasulullah dari alam kuburnya?

Hargailah usaha para ulama kita yang berusaha menyebarkan Islam dengan cara-cara terbaik mengikuti warna dan kebudayaan kaumnya. Bahwa ada kekurangan di sana-sini, kemuliaan mereka lebih pantas dikenang ketimbang celaan. Rumangsamu awake dewe luwih berkelas po? Bukankah mutu dan kelas kita jauh banget di bawah mereka. Please, tahu diri dong.

Sekali lagi, Islam zaman Rasulullah tidak diupdate secepat kamu nyetatus di FB dan bikin kicauan di Twitter. Makanya tidak heran jika mereka zaman dahulu hidupnya bahagia, karena tidak kesusu bin kemrungsung kayak kita yang dikit-dikit gampang menyesatkan dan mengkafirkan, padahal sama-sama sudah bersyahadat.

Bertamasyalah, temui para Waliyullah di Tanah Jawa, lalu mengembara ke negeri-negeri masa lalu, berjumpa dengan Muhammad al Fatih, Syaikh Syamsuddin Aaq, berguru kepada Imam al Ghazali, menemui Shalahuddin al Ayyubi, berguru kepada Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib. Sungguh kita adalah umat yang kurang piknik akibat kebanyakan baca berita gosip di Facebook dan situs-situs bodrex. Wkwkwkwk

Juwiring, 10 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.