Watak kekuasaan ya memang begitu. Maka orang-orang yang normal pasti tidak menginginkannya, ia memilih sibuk fokus menjadi manusia, sebagai sarana mempersiapkan dirinya jika kemungkinan terburuk itu datang. Ya, diberi kekuasaan itu adalah musibah terburuk dalam karir kehidupan manusia. Karena kalau sampai dipasrahi hal itu, Abu Bakar pun menangis sejadi-jadinya. Sahabat yang imannya ditimbang senilai dengan semua iman umat Muhammad saja begitu. Anehnya, kok orang sekarang “nganu” sekali.

Dan bagi mereka yang rendah hati, Allah beri kekuatan agar sanggup menaklukkan watak kekuasaan yang merusak itu. Merekalah para Rasul, khalifah Rasyidah, dan segelintir raja setelahnya yang dimampukan-Nya untuk memegang kekang kekuasaan itu. Selebihnya kita melihat dalam sejarah betapa penguasa itu adalah orang-orang yang hidupnya berakhir dari kehinaan, meskipun juga tetap dipuji oleh orang-orang yang tidak mengerti.

Dan hari ini seolah menjadi lazim bahwa kekuasaan itu adalah jenjang karir. Lalu ada juga sebuah pemahaman bahwa ada manusia berhak mengatur kehidupan manusia lainnya. Ini pemahaman aneh yang membuat saya tidak paham. Lalu buat apa ada agama, jika untuk hidup saja manusia butuh diatur orang lain. Terus agama yang dia peluk fungsinya buat apa? Maka alangkah anehnya jika merasa beragama, tapi kok sok berkuasa.

Makanya para pemimpin umat yang telah menyejarah namanya adalah orang yang paling memberi teladan dalam mengamalkan Islam, bukan yang membajak Islam untuk kepentingan nafsunya, apalagi menjadi pemaksa Islami. Karena Islam itu diturunkan Allah agar manusia itu hidup dengan kesadarannya mengikuti takdir-Nya dan menyayangi sesama ciptaan-Nya.

Kalau manusia sudah ber-Islam dengan kamil, buat apa ada negara, buat apa ada ormas, buat apa ada lembaga-lembaga sosial. Maka mari sejak sekarang berbuat dan berdoa agar semua lembaga-lembaga yang kita dirikan itu segera bubar pada suatu saat. Karena jika mereka bubar, itu pertanda kehidupan kita kembali ke fitrah manusianya lagi. Karena gelar tertinggi kita itu ya jadi manusia. Hanya saja derajatnya bisa berkembang sesuai dengan tingkat pencapaian spirtualitas kita, dan itu yang punya wewenang memberi derajat adalah Allah, bukan manusia lainnya.

Gara-gara kita jadi warga negara, kita kesusahan untuk menolong warga Palestina, Rohingya, Pattani, atau warga manapun yang dibantai, soalnya mereka berbeda status warga negara dengan kita. Gara-gara jadi presiden, maka untuk shalat saja manusia lainnya harus terganggu diperiksa sehingga banyak yang ketinggalan shalat. Gara-gara bergelar raja, maka manusia ada yang harus ngesot-ngesot menyembahnya. Gara-gara stempel non manusia yang melekat pada manusia, banyak proses-proses yang tidak manusiawi terjadi di tengah kehidupan kita. Sistem yang kita ciptakan sendiri, lalu menyusahkan perjalanan kita sendiri.

Maka di situlah Islam datang, meletakkan manusia dengan manusia lainnya sejajar dalam kehidupan lahirnya, sementara urusan kemuliaan derajat Allah sendiri yang mengurusnya, sesekali dia buka tabirnya sehingga kita mengakui ada manusia yang lebih mulia dari kita di luar sana. Biar pun kita saling menyebut mas dan mbak dalam percakapan budaya kita, tapi itu adalah sebentuk kemesraan, bukan dalam rangka menyembah di antara kita. Biarpun kita memanggil kiai, haji, ustadz itu adalah mekanisme identifikasi karena proses ma’rifat kita pada mereka, bukan karena opini televisi kepada kita.

Jadi, mengapa kita kok sering lupa bahwa kita MANUSIA. Sehingga membutuhkan banyak embel-embel lain untuk dilekatkan pada diri kita. Just a human, it is enough for us to live happily in this world and to reach His paradise.

Surakarta, 8 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.