Cak Nun dalam berbagai kesempatan berusaha menyadarkan bangsa Indonesia yang sudah lupa akan arti harga diri. Beliau berulang-ulang menyampaikan bahwa bangsa lain dihancurkan dengan cara-cara militer, termasuk dengan revolusi Arab Springs dan sejenisnya. Tetapi “mereka” tidak akan melakukan hal yang sama pada bangsa Indonesia, karena Indonesia tidak akan kalah jika dibegitukan. Agar bangsa Indonesia lemah caranya dengan dihancurkan martabatnya.

Filosofi bangsa kita itu sangat tinggi dalam soal harga diri. Dalam dunia kependekaran masa lalu, pertarungan itu bukan hanya soal menang kalah, tetapi soal kehormatan, juga imbang atau tidaknya. Dalam bahasa Jawa istilahnya “gebak”. Semakin pendekar itu sakti, semakin dia tidak menggunakan apa-apa, alias bertarung dengan tangan kosong. Dan sudah pasti head to head. Sebaliknya, semakin kurang sakti (misalnya sekelas prajurit kroco), senjata-senjatanya semakin panjang dan semakin jauh, biasanya keroyokan.

Namun seiring “kemajuan” peradaban, filosofi tentang harga diri ini semakin memudar. Terlebih dalam bidang militer, terjadi revolusi senjata yang luar biasa. Sehingga pertarungan yang dahulu sangat dijaga aturan mainnya agar tidak menimbulkan berbagai kehancuran kehidupan, seperti yang dicontohkan Rasulullah saat berperang dengan berbagai kabilah Arab, semakin tidak karuan karena tidak jelas peta pertarungannya. Bersamaan dengan itu lahirlah sifat-sifat kepengecutan yang luar biasa dari tubuh bangsa ini.

Apalagi dengan hadirnya internet dan media sosial. Lengkap sudah sarana untuk meningkatkan sikap kepengecutan itu. Orang bisa bebas nyepam dan bertarung di media sosial dengan menyembunyikan identitasnya. Dalam sudut pandang modern itu disebut sebagai strategi. Tapi bagi yang memahami arti martabat, sesungguhnya pertarungan yang semacam itu di samping sangat merendahkan juga sama sekali tidak layak untuk diladeni. Maka dari itu, cara kita menggunakan internet perlu dibenahi agar media yang saat ini sangat dekat dengan kita menjadi pembantu dalam kebaikan, bukan senjata untuk kepengecutan.

Kini garuda yang konon dahulunya gagah, memiliki pasukan pelaut yang sangat perkasa, memiliki petani-petani yang sangat produktif, jatuh tersungkur menjadi emprit yang terkurung dalam sangkar, yang takut dengan laut, dan memilih jadi kaum industrialis akut ketimbang menjadi petani (karyawannya Gusti Allah). Era baru memang membuat semuanya berubah, dan semua orang harus memilih, melanjutkan perjalanan menuju kehancuran, atau bertahan dan yakin bahwa pertolongan Allah senantiasa dekat.

Juwiring, 14 April 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.