Salah satu masalah susahnya penegakan hukum di Indonesia itu karena orang Indonesia itu luwes dan suka ngiguhke. Kedua kemampuan utama ini membuat kita meskipun duitnya ngepres ya tetap bisa menyiasati hidup. Makanya sekeparat apa pun pemerintahannya, bangsa ini tetap senyum dan santai. Karena penderitaan bisa disulap menjadi kenikmatan dan bahan tertawaan. Paling banter keluar ucapan, “Gusti mboten sare”.

Sayangnya teknologi internal tingkat tinggi ini juga dapat diaplikasikan pada mereka yang mau korupsi dan mengkhianati rakyatnya. Sebagaimana rakyat Indonesia yang luwes dan pinter ngiguhke, kita juga punya ribuan koruptor dan penguasa yang luwes dan pinter ngiguhke dalam mencuri dan menipu khalayak.

Makanya saya sangat hormat pada bapak-bapak di pemerintahan dan penegak hukum yang masih teguh dalam menjalankan tugas. Mereka yang bisa bersikap luwes dan ngiguhke terhadap jenis keluwesan dan ngiguhke yang kontraproduktif. Ini adalah pertarungan tingkat tinggi yang tidak bakal bisa dicatat dalam penelitian akademik.

Dan saya bertaruh, kalau KPK dan polisi-polisi dari luar Indonesia diterjunkan ke sini menangani kasus korupsi di Indonesia, saya yakin mereka stress dan kukut ke negaranya sebelum selesai masa tugas. Atau bisa jadi mereka ketipu seolah-olah kasusnya bisa diselesaikan, padahal sebenarnya tidak. Sehingga mereka merasa puas dalam wujud fiktif.

Makanya upaya perbaikan di Indonesia itu harus dimunculkan dengan kesadaran moral. Kudu banyak tirakat, agar kita tidak jadi maling, dan semoga perjuangan kita untuk tidak jadi maling, membuat Allah terharu sehingga Dia membuat nuansa maling yang sudah menjadi budaya bersama ini surut dari hati kita masing-masing.

Kalau hanya mengandalkan pasal-pasal hukum, kemudian bikin lembaga penegakan hukum berlapis, ora-orane nek masalah rampung. KPK dibangun karena kepolisian dan kejaksaan tidak mampu menindak koruptor, karena tubuhnya sendiri penuh korupsi. Lha nanti kalau beredar isu ada korupsi di KPK, apa mau bikin lembaga baru yang ngawasi KPK? Hahaha.

Piye meh ora korupsi lan ora ngapusi, wong mekanisme SPJ keuangan resmi hanya bisa dipenuhi sempurna jika diolah dengan rekayasa, wong cara nyari pemimpin difasilitasi media dan organisasi yang tujuannya cari dana, dan segala mekanisme yang berbasis “keluwesan” dan “ngiguhke” sedang dimainkan di sekitar kita.

Jadi mari kita sikapi hidup ini dengan keluwesan dan ngiguhke juga. Mungkin kalau pakai mainstream yang sekarang serba dilabeli dengan macem-macem, jenis keluwesan dan ngiguhke yang kita terapkan adalah jenis “keluwesan syar’i” dan “ngiguhke yang halal”. Hahaha

Juwiring, 13 April 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.