Ada sejarah (yang dilupakan/ sengaja dihapuskan dari lembaran sejarah Indonesia) tentang seorang tokoh (relatif) muda (dalam ukuran kepemimpinan politik) kala itu, yang berdiskusi dengan Raja Jawa 2,5 jam hingga sang Raja luluh dan bersedia turun sambil mengucap pidato “Tidak jadi Presiden tidak patheken” seharusnya menjadi bahan belajar generasi sekarang yang dikit-dikit selfie dan haus eksistensi, yang dikit-dikit luluh disuap oleh popularitas.

Kini sang pemuda itu sudah melewati usia sang Rasul, sebentar lagi genap 64 tahun. Dirinya tidak akan pernah melupakan pengkhianatan dari orang-orang yang ikut berteriak di belakangnya untuk menurunkan Raja Jawa, tapi setelah sang Raja turun tahta, ternyata mereka berebut untuk mencuri hingga kini. Sang tokoh yang kini mulai sepuh itu tidak lagi tertarik untuk melangkahkan kaki ke istana. Beliau hanya bersedia menerima atau mendatangi rakyat, dan pejabat paling tinggi yang diperkenankannya adalah Bupati dan jajaranny ke bawah.

Menurut beliau, negeri ini akan bisa membaik jika rakyat di desa-desa berhasil membangun konsolidasi kulturalnya. Menghidupkan kembali tradisi-tradisi leluhurnya yang baik untuk membendung arus penghancuran yang bersarung nama “modernisme”. Kembali menjadi rakyat sejati, yang menarik kembali mandat-mandat kebudayaan dan pendidikan yang selama ini dihancurkan oleh sistem yang bernama pemerintah. Menegakkan kembali kemandirian sebagai tabungan masa depan menghadapi kehancuran ekonomi dunia yang membayang di depan mata. Hidup dengan sederhana sesuai tuntunan Kanjeng Nabi dan para pendahulu yang shalih.

Gagasannya yang selalu otentik sejak dulu dianggap sepi. Tapi barangkali sekarang mulai ramai dicari. Sesal memang selalu datang belakangan dan kepahaman itu biasanya memang menunggu akibat buruk terjadi dahulu. Walaupun demikian, tetap lebih banyak yang hobi berdebat dan berebut eksistensi. Tak jarang yang mengambil keuntungan ekonomi dari eksistensi beliau, tanpa memperhatikan ukuran kepatutan. Gagasannya dipenggal-penggal, dipersaingkan dan dipertarungkan dengan lainnya. Dan lebih banyak yang mencaci beliau serta mencari-cari kesalahannya.

Sebenarnya hal semacam ini wajar. Dalam sejarah ada yang terkadang tidak dicatat. Allah sendiri mengatakan bahwa Dia berkehendak menceritakan sebagian Rasul dan tidak menceritakan sebagian Rasul lainnya. Sehingga al Quran menyediakan ruang eksplorasi kepada umat Islam agar terus mencari dan melihat kemungkinan yang lebih luas dari kosmos kehidupan ini. Ada banyak kemungkinan yang Allah buka rahasianya jika manusia menemukan kuncinya.

Jika nama beliau pun dilupakan oleh sebagian besar orang di negeri ini. Diingatnya cuma kalau lagi jatuh, banyak utang, dan nyaris bunuh diri, maka itu biasa. Wong yang diabadikan dalam al Quran saja banyak yang ga digagas. Apalagi beliau manusia biasa yang maqamnya jelas di bawah para Nabi dan Rasul-Nya. Jika Nabi dan Rasul saja diingat nama mereka pas butuh materi saja, dimanipulasi dan dipolitisasi untuk kepentingan duniai, apalagi beliau yang manusia biasa dari kalangan kita (tetapi Allah berikan ilmu yang lebih tinggi dari kita).

Ada lebih banyak peristiwa sejarah yang telah terjadi, namun tak dicatat secara resmi. Karena catatan sejarah itu ada di tangan para pemenang kuasa. Hanya saja realitas sejarah tidak akan pernah dapat dipungkiri.

Juwiring, 20 April 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.