Apapun predikat kita, yang pasti kita “manusia”, kita mendapatkan tugas sebagai “abdullah” dan jika masih mampu lagi kita menjadi “khalifatullah”. Jadi manusia itu nggak gampang lho, apalagi membebani diri dengan predikat-predikat lainnya yang duniawi.

Jadi manusia saja kita itu bersyhadat, shalat, berpuasa, berzakat, berhaji itu sudah setengah mati susahnya agar ia dapat ditunaikan secara berkualitas dan mendapatkan pengakuan dari Allah. Kok masih banyak yang enteng bilang nambah predikat jadi presiden, maka disamping menunaikan tanggung jawab diri sebagai manusia, ini tambah lagi dengan tanggung jawab sebagai presiden.

Syahadatnya presiden berarti ikrar setia memberikan pengayoman pada negeri melalui negara yang dipimpinnya. Shalatnya presiden adalah membuat keputusan dan pertimbangan strategis yang tepat dalam menjalankan pemerintahan. Puasanya presiden adalah menahan diri tidak korupsi dan tetap hidup sederhana. Zakatnya presiden adalah memberikan prioritas pertolongan pada kaum dhuafa. Hajinya presiden adalah melakukan keempat hal di atas dengan totalitas dan keberanian yang sangat puncak. Beranikah kita bilang, “ah itu gampang”?

Maka kalau ada yang shalat di masjid, yang shalat itu manusia, sekalipun jabatannya presiden, titlenya haji, predikatnya kiai. Karena sama-sama manusia, yang memiliki otoritas mempimpin shalat adalah imam yang ditunjuk. Setiap jamaah yang datang lebih awal berhak berada di shaf paling depan, tidak perlu ada kavling buat presiden, gubernur dan pejabat. Datang telat ya belakang, dan imam berhak memulai dengan pertimbangan kemaslahatannya, tidak harus nunggu presiden jika presidennya bukan imam yang ditunjuk.

Sayangnya, diri kita dan kebanyakan kita lupa. Dikiranya kalau shalat kita masih gubernur, masih pejabat, masih berpredikat bla bla bla. Memang, di era postmodernisme seperti sekarang menjadi manusia itu sulitnya sudah luar biasa, apalagi menjadi abdullah, dan puyeng lagi menjadi khalifatullah. Tapi kok banyak sekali yang antri jadi pejabat? Maaf jangan tanya saya.

*Terinspirasi dari esai Emha Ainun Nadjib thn 1994 “Dari Fitri Natural ke Fitri Kultural”

Surakarta, 30 Mei 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.