Pendekatan yang digunakan Kiai Muzammil dalam melihat permasalahan kenaikan pajak dan segala jenis pungutan pemerintah sangat menarik. Jika ditarik dengan garis keimanan, seharusnya yang demo paling rajin ya para PNS dan segala elemen masyarakat yang hidupnya dari kucuran dana pemerintah.

Mengapa? Karena hubungan pemerintah dan rakyat adalah hubungan muamalah. Artinya segala sesuatunya harus didasari keridhaan kedua belah pihak. Jika rakyat hari ini merasa terzalimi dengan pungutan pajak yang memberatkan sehingga mereka tidak ridha dengan apa yang mereka setorkan, bukankah berarti uang yang dikelola pemerintah itu adalah “uang haram”?

Sementara aparat pemerintahan dan lembaga-lembaga pemerintah adalah pihak yang pertama kali menerima kucuran “uang haram” itu. Jadi alangkah indahnya jika ada demo besar-besaran dari para PNS dan lembaga-lembaga negeri seperti sekolah yang menyuarakan “jangan cekoki kami dengan uang haram”, pasti akan menarik. Menyuarakan penegakan keadilan sebaiknya jangan setengah-setengah lho ya. Apalagi hanya gara-gara anti sini pro sana.

Memahami masalah secara lengkap dari hulu hingga hilirnya, memang lebih susah, butuh mikir berat. Karenanya, paling mudah ya tinggal teriak saja, semua ini gara-gara Jokowi. Menyalahkan pihak lain itu sangat mudah, gratis, dan menyenangkan. Apalagi jika dipupuk dengan kebencian, dendam, dan hasrat untuk gantian berkuasa. Para raja dari dinasti Islam di masa setelah Khulafaurrasyidin telah memberi contoh betapa “nikmatnya” bergelimang kekuasaan. Dan karena memang nikmat, hingga hari ini dikejar tak henti-hentinya. Hahaha.

Juwiring, 18 Januari 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.