Tafakur

Kumpulan tulisan renungan dan tafakurku

  • Relativitas Sains

    Ketika mendalami sains, sampailah aku pada kesimpulan betapa relatifnya sains yang selama ini disebut ilmu pasti. Yang ilmu pasti itu matematika, itu pun beberapa permasalahan matematika masih belum terpecahkan. Dalam fisika, alam semesta ini saja penuh kejutan. Jarak terpendek dan jarak terjauh saja tidak pasti, tergantung pada perkembangan metodologi risetnya dan kecanggihan alat yang digunakan….

  • Melawan Narkoba

    Soal narkoba itu menarik. Karena kita itu terbiasa kalau melihat narkoba itu sepenggal saja, akhirnya kita tidak konsisten. Padahal kalau totalitas melawan narkoba, kita bisa, dan itu sekaligus menjadi perjuangan untuk menjadi bangsa yang berdikari. Prinsip dasar narkoba kan meracuni dengan sesuatu zat asing yang melebihi kadarnya. Selain narkoba yang kita pahami sebagia obat-obatan terlarang…

  • Robot, Rokok, dan Dunia Maya

    Masih soal rokok, benda nglencer dari rajangan tembakau itu ternyata bisa membuat tatanan masyarakat hingga pemerintahan kacau balau membahas masalah yang tidak jelas juntrungannya itu. Rokok tetaplah rokok, ia benda. Yang aneh adalah kita yang memandang fenomena kebendaan rokok tersebut. Gampangannya gini, katakanlah menteri-menteri di Kabinetnya Pak Jokowi itu separuhnya adalah perokok, cuma menteri kesehatan…

  • Rokok dan Gagal Fokusnya Kita

    Ketika rokok memasuki dunia industri, ruwet sekali memang. Apalagi kalau nanti terjadi monopoli. Sebagai warisan kompeni yang disandingkan dengan kopi, sehingga bagi sebagian orang membantu menumbuhkan inspirasi, dan bagi sebagian yang lain memang sebaiknya tidak mengkonsumsinya, rasanya rokok menjadi absurd ketika diperdebatkan dalam konteks industri. Padahal di desa-desa yang masih ndesit, mbah-mbah tangguh itu ketika…

  • Satire

    Tulisan satire sering diklaim berlebihan dan tidak masuk akal, tapi efektif untuk menyindir mereka yang masih punya perasaan dan nalarnya masih jalan. Jika tulisan satire dipahami dengan bahasa akademik yang kaku ya akan disalahkan. Misalnya A. A. Navis menulis cerpen Robohnya Surau Kami yang sangat disukai Heriyanto. Beliau membuat dialog dalam cerpennya antara Allah dengan…

  • Penghancuran Kebudayaan

    Di usia 26 tahun ini saya mencoba menggali ingatan tentang kehidupan desa. Masih jelas proses-proses alami yang kulalui hingga mengalami modifikasi setelah melalui dialektika pemahaman sekolah hingga kuliah yang bisa dikatakan 100% urban minded, alhamdulillah tidak tergerus oleh cara berpikir itu secara keseluruhan. Meskipun ini bukan kesimpulan final, tapi saya berani mengatakan bahwa institusi sekolah…

  • Otoritas Ilmu

    Dalam sebuah forum diskusi terlontar sebuah pertanyaan tentang keabsahan status gelar yang dimiliki seseorang. Sejak kapan kita sekarang cara berpikirnya meyakini gelar dulu baru melihat kinerjanya, bukan berdasarkan kinerjanya maka gelar akan diperoleh. Bagaimana logika legalitas gelar itu berlaku sejak munculnya sistem persekolahan modern saat ini. Jika ditelisik ke belakang gelar-gelar yang sekarang disandang orang…

  • Darurat Makna Kata

    Selama kita nggak ngerti bedanya, NEGERI, NEGARA, PEMERINTAH, APARAT, dll mulai dari asal usul makna katanya, pergeseran maknanya secara politik berdasarkan kronologi sejarah dll ya selama itu pula kita akan dimain-mainkan. Lha kok urusan itu, wong kita membedakan makna WARGA NEGARA, PENDUDUK, MASYARAKAT, RAKYAT, dan UMAT saja belum tentu bisa. Dikiranya sama saja, searti, dan…

  • Hukum Tanpa Keadilan, Fikih Tanpa Akhlak

    Pasca amandemen UUD 1945, negara ini berdasarkan atas hukum. Adil atau tidak adil tidak ada urusan, yang penting berdasarkan pasal-pasal hukum yang disusun oleh para politisi kita. Kalau ada orang maling ayam yang penting dihukum, tanpa diinvestigasi secara komprehensif alasan mendasarnya maling ayam. Sementara kalau ada koruptor atau bandar narkoba minta pengurangan hukuman, dikabulkan dengan…

  • Yang Penting Belajarnya, Bukan Sekolahnya

    Jika kebijakan pemerintah soal pendidikan memberatkan, jika urusan sekolah menjadi lebih rumit, jika akhirnya cuma menjadikan medsos sebagai tempat mengumpati segala hal, gimana kalau anak-anak nggak usah belajar ke sekolah sekalian. Anak-anak diajak aja latihan bekerja sejak kecil. Yang petani diajak ke sawah, yang pedagang diajak ke pasar. Yang pengrajin diajak segera bikin karya. Nek…