Dalam sebuah forum diskusi terlontar sebuah pertanyaan tentang keabsahan status gelar yang dimiliki seseorang. Sejak kapan kita sekarang cara berpikirnya meyakini gelar dulu baru melihat kinerjanya, bukan berdasarkan kinerjanya maka gelar akan diperoleh. Bagaimana logika legalitas gelar itu berlaku sejak munculnya sistem persekolahan modern saat ini.

Jika ditelisik ke belakang gelar-gelar yang sekarang disandang orang sebenarnya tidak lebih sebagai pendekatan industrialistik. Meskipun, ada juga yang bersamaan dengan gelar itu kompetensi seseorang bersesuaian. Artinya dari semua orang yang punya gelar, sebagian memang sesuai dengan gelar yang disandangnya. Sebagian lainnya ya karena hanya mengikuti sistem itu. Adanya gelar membuat industri mudah melakukan identifikasi untuk menarik orang-orang ke dalam sistem mereka.

Maka dari itu, dalam perkara ilmu, gelar tidak semata-mata berlaku. Tetapi yang utama adalah kompetensi dan karya-karya pemikirannya. Itupun tergantung sudut pandang yang berlaku secara publik. Jika publik masih terpaku pada satu metode, maka orang-orang yang hebat namun tidak mengikuti metode itu bisa direndahkan dan mungkin dicap “murtad” dalam sudut pandang mereka.

Cak Nun pernah berseloroh ketika diminta menjadi pembicara di forum besar sebuah universitas negeri. Beliau bertanya, “apakah status Sarjana yang disandang lulusan universitas itu legal secara hukum? Secara logika gelar sarjana seseorang sah jika dan hanya jika gelar itu diberikan oleh para sarjana sebelumnya. Pertanyaannya, siapakah sarjana pertama yang secara legal diakui kesarjanaannya sehingga berhak menganugerahi gelar sarjana kepada orang setelahnya? Dan apa dasar hukum legalitasnya. Kalau nabi, menjadi nabi karena dilantik oleh Allah sebagai nabi. Lha kalau sarjana?”

Pertanyaan serupa juga dapat berkembang ketika kita bertanya, “Apakah dulu Imam Syafii itu ketika hadir di forum tiba-tiba langsung mendapat gelar sebagai imam madzhab, mujtahid mutlaq, atau sejenisnya?” Tentu tidak, beliau adalah pembelajar sejati. Setiap hari beliau hidup normal sebagai manusia, ya tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi menghabiskan lebih banyak waktunya untuk urusan ilmu melebihi manusia biasa. Sehingga ketika ada diskusi keilmuan, ada pertanyaan atas sebuah masalah, atau menyangkut aneka persoalan kemasyarakatan, beliau bisa merumuskan kaidah-kaidah jawaban yang tidak pernah dipikirkan orang di masanya. Kaidah-kaidah itu relatif awet dan terus menjadi rujukan orang hingga sekarang, maka kemudian gelar itu kemudian dianugerahkan oleh orang-orang kepada beliau.

Jadi saya berpendapat bahwa otoritas ilmu itu lahir dari jam terbang dan kiprahnya, bukan dari status pendidikannya, apalagi pendidikan modern saat ini. Itulah mengapa, gelar-gelar akademik sebaiknya ya dipakai di saat keperluan akademik saja. Saya sendiri memilih seperti itu dari pada dianggap yang tidak-tidak oleh orang-orang. Kan lebih asyik jika tidak diketahui apa-apanya, tapi bisa berpendapat dengan bebas, ketimbang belum apa-apa dibebani oleh masyarakat dengan yang tidak-tidak.

Nah, dewasa ini kita sering menghadapi pemaksaan otoritas, dan yang paling fatal adalah pemaksaan otoritas dalam beragama. Mentang-mentang lulusan Timur Tengah, kadang lagaknya sok belagu dan merasa lebih tahu urusan agama ketimbang yang dari pesantren lokal. Demikian pula mentang-mentang lulusan Barat kadang merendahkan orang-orang lokal dengan sebutan tradisional. Sebenarnya anggapan itu tidak sepenuhnya salah, memang banyak orang-orang kita yang awam soal agama dan tidak mau berkembang soal sains-nya. Tapi itu tidak semuanya, banyak yang lebih berprestasi dan progresif.

Mengapa pemaksaan otoritas terjadi? Karena sekarang forum diskusi ilmu mati. Di mana-mana pengajian, seminar dan berbagai acara kumpul-kumpul pasti meletakkan satu dua orang pembicara sebagai yang dianggap “paling benar”, tidak digelar diskusi umum, lalu sang tokoh ini diminta jadi wasitnya. Apa dampak buruk dari acara-acara semacam itu? Yang jadi pembicara kalau tidak bisa mengendalikan diri bisa melambung dan sombong. Yang menjadi pendengar sering kehilangan akal sehat sehingga ogah mikir. Buntutnya lahir fanatisme tokoh dan suka berkubu sana sini.

Kita perlu banyak jagongan dan memperbaiki acara kumpul-kumpul kita. Ada masjid, cakruk, angkringan, hingga cafe yang dapat kita jadikan tempat diskusi. Yang penting muatan diskusinya dan tujuan dari diskusi itu adalah untuk kemaslahatan. Selanjutnya kita praktekkan sesuai kemampuan kita masing-masing.

Juwiring, 19 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.