Ketika rokok memasuki dunia industri, ruwet sekali memang. Apalagi kalau nanti terjadi monopoli. Sebagai warisan kompeni yang disandingkan dengan kopi, sehingga bagi sebagian orang membantu menumbuhkan inspirasi, dan bagi sebagian yang lain memang sebaiknya tidak mengkonsumsinya, rasanya rokok menjadi absurd ketika diperdebatkan dalam konteks industri.

Padahal di desa-desa yang masih ndesit, mbah-mbah tangguh itu ketika musim kemarau menanam tembakau, dipanen, dijemur, dirajang sendiri, sebagian disimpan untuk dirokok sendiri, dan sisanya dijual. Uang hasil penjualan sebagian untuk membeli ratus (ramuan cengkeh dan rempah-rempah untuk rokok) dan untuk simpanan kehidupan selanjutnya. Nyatanya kebanyakan mereka hidup sehat dan sakit sewajarnya di usia tua hingga wafatnya.

Jadi saat kita berposisi pro rokok atau pun anti rokok, itu dalam konteks apa? Karena lagi-lagi ini memang bikin pusing dan menambah daftar perdebatan baru di tengah umat Islam yang sudah terjerat riba akut, kalah terus dalam pemilu karena gagal bersatu mengajukan calon pemimpin terbaiknya, dan makin terpenjara dalam madzhab dan ormasnya yang mirip industri agama gaya baru.

Secara kesehatan, fakta asap rokok berbahaya itu baru separuh dari fakta asap rokok lainnya, yakni bisa dikendalikan/ dijinakkan. Artinya mengungkapkan asap rokok berbahaya saja, itu berarti menyembunyikan kebenaran separuhnya. Bilang rokok itu menyehatkan, juga persis orang dagang minuman berkarbonasi, indah tapi ngawur. Yang separuh-separuh itu memang menyebalkan. Persis orang yang beragama setengah-setengah kayak sekarang. Sehingga kita menjumpai koruptor yang karakternya luarnya busuk itu susah, adanya koruptor yang kalau berpenampilan keren, bahkan kadang masih berani umroh pula.

Saya rasa perdebatan pro rokok – anti rokok harus diperjelas medannya. Artinya karena industri rokok di mana-mana membuat orang ketergantungan pada rokok akibat iklan-iklannya yang terlalu bagus ditonton, maka gerakan kembali nglinting rokok sendiri perlu digalakkan oleh para perokok. Dengan kata lain merokoklah secara berdikari. Bagi orang yang tidak merokok, ada baiknya menggalakkan kampanye soal adab merokok. Karena diakui atau tidak, orang sekarang kalau merokok sembarangan, termasuk buang puntungnya. Beda dengan mbah-mbah dulu yang kalau merokok biasanya empan papan dan tahu situasi kondisinya. Sehingga edukasi soal rokok penting digalakkan oleh mereka yang tidak merokok.

Jika kaum perokok dan anti rokok mengemban tugas mulia ini masing-masing, saya rasa akan lebih bermanfaat ketimbang eyel-eyelan dan beradu argumentasi soal boleh atau tidaknya, sementara pabrik rokok akan tetap memproduksi rokok dan pasti akan dibeli para perokok. Sementara yang anti-rokok cuma akan kehabisan suara karena mau kampanye anti rokok sebesar apa pun, dia akan kalah melawan industri rokok yang lebih hebat dan siap dengan senjata ekspansinya. Hasilnya petani tembakau tetap akan dikadali industri rokok. Apalagi rokok dikabarkan harganya akan naik, industri rokok pasti akan menikmati hasilnya berlipat-lipat. Karena perokok tetap akan membeli rokok berapa pun harganya, sayangnya petani tembakau hanya akan mendapat bayaran atas tembakaunya dengan harga standar.

Akhirnya, sebenarnya kita itu sedang dibuat salah fokus dan supaya bertengkar terus. Bila perlu nanti bertengkarnya sampai keluar dalil-dalil agama yang kalau didengarkan kelihatan mirisnya ketimbang masuk akalnya. Miris bukan karena dalilnya, tapi miris sama yang lagi rame saling berperang dalil. Kalau perdebatannya lewat medsos, ya yang punya medsos makin kaya. Kalau pakai paket data seluler, yang jadi bos operator selulernya juga untung. Dengan semua sistem yang saling terkait seperti sekarang, apa kita tidak merasa dikadali habis-habisan?

Jadi Anda masih mau fokus jadi pro maupun anti rokok?

Juwiring, 21 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.