Karena manusia itu memang tempat lupa, maka mari kita mengingat, sebelum lupa
Siapa pemimpin kita sesungguhnya? Presiden? Gubernur? Bupati? atau Khalifah?
Mari kita mencoba melihat ke 14 abad silam

Rasulullah hadir membawa risalah Islam untuk mengembalikan manusia agar menjadi manusia
Yang setara satu sama lain dengan satu ketaatan yang sama, pada Allah saja
Di Makkah, ia tawarkan mahkota tuk sesiapa yang mau berkuasa, asal berhukum pada kitabullah
Amr bin Hisyam pun tertarik, namun urung karena ia terlampau rakus untuk berkuasa mutlak
Ia hadirkan angkara, menindas para papa yang beriman pada-Nya

Maka Rasulullah dan orang-orang beriman dibukakan oleh-Nya Madinah
Sebuah desa yang kelak menjadi cahaya bagi dunia
Di sana, Rasulullah membina masjid dan memasjidkan umat
Ia tak jadi Presiden layaknya Presidenmu kawan
Ia tetap jadi masyarakat biasa, tapi berwibawa karena bermaqam begawan
Pemimpin-pemimpin Muhajirin tetap dari golongannya, pemimpin-pemimpin Anshar tetap dari golongannya
Mereka menunaikan urusan kehidupannya masing-masing
Dan mereka bersetia pada Allah di bawah bimbingan sang Rasul mulia
Itulah potret desa yang kelak melahirkan para pahlawan yang menyejarah
Itulah potret desa yang melahirkan ulama-ulama generasi pertama dalam sejarah Islam

Wafatlah sang junjungan mulia itu diiringi tangis kesedihan
Namun hidup mesthi berjalan
Dipilihlah yang terbaik di antara yang baik
Untuk menggantikan tugas sang Rasul
Dimulai dari Abu Bakar, sang Siddiq yang dikenal lembut namun tegas
Kemudian Umar, sang Faruq yang dikenal tegas namun penyayang
Kemudian Utsman, sang Dermawan yang lembut lagi santun
Kemudian Ali, sang Pendekar yang zuhud lagi berbesar hati
Di tangan mereka umat terbimbing
Merekalah sahabat paling mulia, ulama generasi pertama umat Islam
Ingatlah, ulama itu para pewaris nabi

Fitnah pun datang laksana gelombang
Menerpa umat yang mulai cinta dunia
Membuat saling berbunuhan demi berebut harta
Saling mencaci karena hasut durjana
Saling menghinakan demi meraih kuasa
Para sahabat mulia pun semakin banyak berpulang
Lalu mulailah masa pancaroba
Umat mesthi bersabar dengan hadirnya para raja
Yang berseteru dan berebut kuasa
Saling mengkudeta menjadi biasa
Lalu siapa pemimpin umat ini?
Ulama
Merekalah para penerus sahabat mulia
Merekalah para tabi’in, lalu tabi’ut tabi’in, dan terus demikian hingga hari ini

Zaman berganti
Umat semakin menjadi pelupa
Hari ini puncaknya
Tatkala otak-otak kita dicuci oleh peradaban Materi
Maka umat ini hanya mengenang kejayaan
Dengan ukuran perang dan penaklukan
Dengan ukuran istana megah dan luas wilayah
Dengan ukuran kekayaan dan warisan materi semata
Lalu pasti mereka lupa, siapa sebenar yang berjasa dalam peradaban ini

Umat ini lebih mengenal penguasa
Dan lupa siapa disebaliknya
Umat ini lebih mengenal Umar bin Abdul Aziz, tapi lupa pada Raja’ bin Hawaih
Umat ini lebih mengenal Harun al-Rasyid, tapi lupa pada Abu Yusuf
Umat ini lebih mengenal Nuruddin Zanky dan Shalahuddin al-Ayyubi, tapi lupa pada Al-Ghazali dan Ibnu Athailah
Umat ini lebih mengenal Muhammad al Fatih, tapi lupa pada Syamsuddin Aqq

Di negeri ini,
Umat lebih mengenal Raden Fatah, tapi lupa pada Wali Sanga
Umat lebih mengenal Tjokroaminoto, tapi lupa pada Syaikhana Khalil Bangkalan
Umat lebih mengenal Soekarno-Hatta, tapi lupa pada Wahid Hasyim, Mohamad Natsir, dan Masyumi

Bukan ingin membandingkan mana yang lebih baik
Bukan demikian, karena mereka semua mulia
Tapi hanya mengingatkan
Lahirnya pemimpin dan gagasan besar, karena ulama di belakangnya
Mengapa Umar bin Abdul Aziz muncul ke permukaan
Mengapa kaum mu’tazilah berhasil diusir dari istana
Mengapa umat kembali bangkit setelah hancur berpecah belah dan lemah jihad
Mengapa semangat pasukan terus terpompa hingga jatuhnya benteng Konstantinopel

Mengapa Demak lahir, Mataram lahir
Mengapa NU dan Muhammadiyah lahir
Mengapa Pancasila lahir, mengapa ada kata ketuhanan, adil, adab, dan hikmat

Maka cukuplah hari ini kita berlabuh kembali pada ulama
Siapa mereka?
Mereka yang tetap teguh di dalam pijakan nilainya
Mereka yang zuhud terhadap dunia
Mereka yang tidak bernafsu pada kekuasaan
Merekalah pemimpin kita sesungguhnya
Bukan yang kebanyakan tebar janji
Bukan yang suka menipu
Bukan pula yang keluyuran dengan mencuri uang kita

Allah bukakan tabir dari ulama yang masih hidup itu
Setidaknya kita masih bisa menjumpai beberapa mereka
Yang majelisnya masih bisa kita datangi
Karena mereka membuka diri untuk menjadi tempat bertanya umat
Mereka yang mengajari adab dan hikmah
Mereka yang mendidik hati kita sebelum memberi ilmu dan wawasan

Mereka ikhlas menanggung kepedihan
Ketika umat terus larut dalam kebodohan
Berbelah bagi dan saling beradu alasan bodoh
Mereka tetap tegar dan menasihati umat dengan kelembutan
Meski terkadang jawaban penuh cacian dan cela yang diterima
Demikianlah umat hari ini
Yang sudah merasa pintar melebihi Tuhan
Semakin pedihlah hati mereka
Tapi semua itu tak mereka tampakkan di hadapan umat tercinta

Mari kita cintai mereka
Mari kita serap hikmah-hikmah dari lisan mereka yang mulia
Sebelum Allah wafatkan mereka
Sebelum dunia ini semakin kering ilmu karena diangkat lewat wafatnya mereka
Sebelum musibah dan azab Dia timpakan tersebab kebodohan dan kerusakan pikiran kita

Allah,
Karuniakanlah rasa cinta di hati kami kepada ulama
Bukakanlah tabir antara mereka dengan kami
Sehingga kami bisa belajar dari mereka
Di tengah gempuran kerusakan yang melingkupi kami

Surakarta, 6 September 2015

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.