Ulama sejati adalah yang menjaga dirinya dari membuat keputusan yang menyebabkan tumpahnya darah kaum muslimin akibat peperangan di antara mereka.

Seperti Rasulullah yang mencegah sahabat bertikai, karena ada yang hendak membunuh Abdullah bin Ubay bin Salul setelah terbongkar kemunafikannya. Jika Rasulullah tidak mencegahnya, maka sang pembunuh dengan putra Abdullah akan bermusuhan, padahal keduanya sama-sama orang beriman.

Seperti Umar bin Khattab yang tidak berpengawal. Saking bebasnya dari kawalan, seorang yang punya dendam dengan beliau berhasil menusukkan pedang ketika beliau menjadi imam shalat subuh. Agar tidak terjadi dendam, beliau meminta sesiapa pun yang hadir di pagi itu memaafkannya.

Seperti Utsman bin Affan yang menyuruh anak-anak sahabat mulia pulang meski mereka ditugaskan ayah-ayah mereka untuk menjaganya. Utsman memilih menghadapi demonstran sendirian, agar jika mati ia sendiri yang jadi korban, dan tidak mengorbankan orang beriman lainnya. Ia pun wafat bersama istrinya dicincang para demonstran.

Demikian pula Ali bin Abi Thalib dan Hassan bin Ali yang memilih menyerahkan urusan kepemimpinan kepada Muawiyah, dari pada harus membuat dua kelompok besar umat Islam saling berperang satu sama lain.

Demikian pula Saad bin Abi Waqash yang menolak menjadi pengambil kursi kekhalifahan ketika terjadi chaos di masa peralihaan antara masa khalifah Rasyidah ke dinasti Umayyah. Dia memang bekas panglima perang, 1 dari 10 sahabat yang dijamin masuk syurga yang masih hidup kala itu. Tapi dia memilih diam agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah kaum muslimin.

Hari ini, begitu banyak kita jumpai lisan-lisan yang memudahkan pembunuhan atas sesama kaum muslimin. Tak jarang karena urusan perbedaan pendapat dan masalah ekonomi, dua kelompok besar bermusuhan. Padahal sama-sama shalat, sama-sama mengaku mencintai Allah dan Rasulullah. Entahlah, apa maksudnya dari kata cinta itu. Cinta yang seperti apa?

Mungkin kita memang lupa harga dari nyawa seorang manusia, apalagi nyawa seorang mukmin. Dan alangkah beratnya menjadi ulama. Jika ulama sekarang gampang mengeluarkan fatwa, sementara umat meletakkan kedudukan fatwa melebihi dalil syar’i, pertanda apa ini?

Tidak mengherankan jika nanti kata “kafara” dijidat Dajjal hanya bisa dikenali orang-orang yang beriman, yakni mereka yang diberi cahaya oleh Allah sehingga tidak silau dengan berbagai penipuan-penipuan massal yang sedang dijalankan secara massal dan masif di muka bumi saat ini.

Juwiring, 30 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.