Menjadi generasi intelektual itu, ya memang harus paling siap menderita dong. Karena ketika yang awam tidak tahu apa-apa, kaum intelektual-lah yang mengerti keadaan dan mampu memprediksi kemungkinan di masa depan.

Jadi para cendekiawan lah yang harus bekerja paling keras mengedukasi dan meyakinkan masyarakatnya meskipun dipaido oleh masyarakat dan tak jarang gagasannya dibajak para politisi untuk mencari kursi dan berbagai kemewahan dunia.

Ulama itu tidak ada urusannya dengan simbol fisik. Ulama itu urusannya dengan ilmu dan informasi. Ulama itu adalah penerus para nabi, mereka adalah kaum intelektual yang tugasnya memberi kabar pada manusia dengan resiko dipaido dan tidak dianggap apa-apa.

Wali atau penguasa yang adil adalah penerus para rasul. Merekalah yang menegakkan risalah dan memperbarui perjanjian-perjanjian risalah sebelummya. Makanya jumlahnya tidak banyak di muka bumi pada setiap masa, sebagaimana Allah juga tidak menjadikan setiap nabi adalah seorang rasul sekaligus.

Di zaman pencitraan yang parah ini, mata kita lebih mudah percaya pada penampilan dari pada pikiran kita sendiri yang seharusnya terus loading melakukan scanning dan identifikasi atas apa pun. Ya karena cara kerja mata kita yang jauh lebih canggih dari kamera tercanggih sekalipun, mampu memberi informasi penampilan seseorang apakah dia termasuk “ulama” apa bukan. Pertanyaannya, lha yang membuat standar bahwa penampilan semacam itu pasti seorang ulama itu janjane siapa?

Juwiring, 4 September 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.