Dari ilmu yang dipelajari dan berjibun di sekolah dan universitas, ada filsafat yang mendasarinya. Meski sudah sekolah bertahun-tahun, saya baru menyadari filsafat yang mendasari ilmu-ilmu yang saya pelajari ketika hampir lulus kuliah. Dan kesadaran itu baru hadir saat mengikuti kajian Studi Peradaban Islam dan berdiskusi panjang dengan mas Ricky Elson. Sebagai orang yang kuliahnya kebetulan di bidang sains, saya tertarik dengan karya ilmuwan muslim.

Ternyata benar, filsafat yang dibangun para ilmuwan muslim yang tauhidi (berlandaskan pengakuan adanya Tuhan) sekalipun mula-mula mereka mengadopsi gagasan filsafat dari Yunani, memang sangat berbeda dengan filsafat ilmu yang pernah dan barangkali saat ini masih kuat berkembang di dunia. Contoh sederhananya, filsafat Islam meletakkan manusia sebagai bagian dari alam, sehingga ilmu yang dikembangkan tidak boleh bertentangan dengan sunnatullah. Maka karya ilmuwan muslim lebih banyak pada urusan sosial maupun teknologi tepat guna. Sementara filsafat materialisme Barat, meletakkan manusia sebagai subyek, alam sebagai obyek, dan meniadakan eksistensi Tuhan. Akibatnya terjadilah penaklukan atas manusia lain dan perusakan alam demi kepentingan kapitalisme dan industri. Maka tidak heran jika dalam kehidupan sosial terjadi penyimpangan dan ilmu aneh-aneh, dan dalam dunia sains terjadi perlombaan dalam pengembangan senjata.

Silahkan belajar ilmu apa pun, tapi tanpa didasari filsafat yang benar maka sesungguhnya kita sedang menjadi bagian dari kehancuran. Maka saya hormat kepada para ilmuwan sains negeri ini maupun dunia, yang mati-matian mempertaruhkan ilmunya dan totalitas kembali ke pengembangan teknologi berbasis alam seperti mas Ricky Elson di bidang energi, ahli mikrobiologi yang mulai memformulasi bakteri untuk pertanian dan pengobatan, serta ilmuwan di berbagai bidang sains yang anti-mainstream. Tak hanya ilmuwan sains, para budayawan juga berjuang dengan ikhlas melawan hegemoni ilmu sosial Barat yang sudah sedemikian angkuhnya, di antara mereka yang masih hidup seperti Cak Nun, Sujiwo Tejo, Prie GS, Gus Mus, dan para kiai karismatik yang selama ini hidup dalam kezuhudan. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian wahai para guruku.

Ngawen, 21 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.