Musuh kita bersama saat ini kan sebenarnya kartel-kartel perdagangan yang menjalankan praktik monopoli seperti era VOC.

Tak kasih contoh, umat Islam kan hari ini sedang rajin-rajinnya baca (eh beli) al Quran. Menurut para penerbit, penjualan al Quran itu sangat stabil dan menjadi penopang cashflow rutinan para penerbit agar selalu punya lebon.

Sebab penerbit-penerbit itu bisa panen ya kalau musim-musim tertentu saja seperti menjelang Ramadhan, menjelang ujian nasional dan masuk perguruan tinggi, hingga kalau dapat proyek-proyek pengadaan buku dari pemerintah atau lembaga lain. Padahal penerbitan usaha yang berjalan, butuh menggaji karyawan. Dari mana aliran kas rutinnya? Ya paling bisa dijagakke adalah penjualan al Quran.

Terus dari mana suplai kertas untuk cetak al Quran? Konon 85% kertasnya disuplai oleh Sinar Mas, salah satu bagian dari 9 naga. Belum lagi percetakannya, tidak semua percetakan mampu mencetak al Quran dengan bagus seperti yang beredar di toko-toko itu. Percetakan yang bagus dan berkualitas semacam itu juga dimonopoli oleh beberapa usaha percetakan saja. Siapa pemiliknya, ya lagi-lagi geng di atas.

Itu baru dari penerbitan al Quran. Belum soal jaringan impor kurma, yang sebentar lagi kurma yang mereka kuasai akan meramaikan pasar kita di bulan Ramadhan, karena sangat diyakini oleh umat Islam sebagai makanan yang sangat Islami dibandingkan sega thiwul atau sega jagung. Masih banyak komoditas yang sekarang sedang meramaikan pasaran negeri ini dengan konsumen utamanya adalah umat Islam yang sedang giat-giatnya menjadi kaum konsumen simbol-simbol agama.

Lalu bagaimana dengan sektor lainnya, ya sama saja. Tekstil, kebutuhan rumah tangga, hingga urusan hobi, kan kita semua konsumen. Coba kita periksa barang-barang kita, mana yang setidaknya merupakan produk lokal buatan tetangga kita atau warisan dari leluhur kita yang mereka buat sendiri? Wong untuk sekedar ngegame saja kita itu akhirnya jadi konsumen ponsel yang lagi-lagi juga bukan buatan kita sendiri kok. Ga salah pakai hape, sebab kita butuh. Tapi kalau punya hape hanya untuk nge-game gila-gilaan, kan yang seneng ya para produsennya.

Makanya, parpol-parpol sekarang tidak terlalu bisa diandalkan untuk menjadi penguasa. Sebab mereka kan sangat tergantung kucuran dana. Dari siapa? Dari pemerintah? Masak iya. Ya dari para sponsor lah. Dari para juragan itu. Sehingga ketika mereka berkuasa, mereka melayani kepentingan para juragan itu. Makanya kebijakan-kebijakan pemerintahan yang berjalan, pasti sejalan dengan keinginan para juragan. Mereka memang berbusa-busa ngomong semua ini demi rakyat. Rakyat yang mana? Ya rakyat juragan itu maksudnya. Bukan rakyat kere-kere yang tiap pemilu menerima amplop.

Lihat saja, proyek transportasi publik kita tidak berkembang, tapi proyek jalan raya terus digalakkan. Sebab kalau dibuatkan transportasi publik seperti kereta api, perkapalan, dan penerbangan, perusahaan-perusahaan mobil akan kehilangan pasar di negeri ini. Apalagi jika perusahaan kereta api, perkapalan, dan penerbangan dikuasai BUMN semuanya. Tapi itu masih mimpi, sebab kita juga pasti ga sabar menunggu itu semua terwujud. Maunya kita cepat ada, cepat jadi, cepat tersedia, mbuh dari mana uangnya, ngutang juga ga apa-apa, bila perlu jual ini itu semua ke asing. Mulut kita teriak-teriak anti asing, tapi perilaku harian kita sangat pro asing.

Apalagi melihat pendidikan kita, itu paling mengenaskan. Wacana impor dosen asing sendiri sebenarnya adalah masalah paling hilir yang entah lebih enak ditertawakan saja. Sebab sudah rusak semuanya. Bagaimana ceritanya bangsa yang dahulu dikenal tangguh di lautan, hebat di pertanian, dan tinggi di kesenian dan kebudayaan, sekarang jadi kaum yang cuma hobi bergaduh di media sosial untuk meributkan perkubuan golongan dan menyembah-nyembah presidennya.

Semuanya karena uang. Uang dituhankan oleh bangsa ini. Mau beragama apa pun, tuhannya uang. Shalat rajin demi uang. Uang tidak lagi dipandang sebagai salah satu bagian dari “energi dari Tuhan” untuk tugas peradaban, tetapi uang adalah target pencapaian bangsa ini. Sekolah biar pintar, biar bisa bekerja, lalu dapat uang banyak, dan senang-senang. Kampanye politik gila-gilaan, biar punya kedudukan, lalu punya akses uang yang banyak, dan senang-senang. Bahkan bercerita banyak hal tentang agama, ya biar dapat sedekah uang banyak, lalu untuk membuat mega proyek kemegahan-kemegahan yang jelas-jelas ditentang oleh al Quran.

VOC tak pernah pergi. Para perintis mereka di negeri ini, berhasil meletakkan pondasi kapitalisme yang sangat baik sehingga uang yang dulu sebatas menjadi alat perdagangan dan sirkulasi ekonomi, sekarang menjadi Tuhan yang disembah oleh bangsa ini. Semua menyembah Tuhan uang. Ada yang dikasihinya sehingga sangat berkelimpahan, maka yang lainnya dikalahkan sehingga tidak kebagian uang sama sekali. Tuhan uang mendekat pada golongan yang sedikit di negeri ini dan ia juga masih dikejar-kejar oleh sebagian besar bangsa ini yang kepengin tapi tak punya kesempatan dekat dengan Tuhan uang.

Lalu sebagian yang melihat kenyataan ini, cuma bisa gigit jari. Mereka tahu uang tidak seharusnya diperlakukan demikian. Tapi mereka tak mampu berbuat banyak untuk mengajak manusia lainnya memperbudak uang. Tapi setidaknya mereka mulai belajar untuk memperlakukan uang-uang yang mereka pegang sebagai budak, tidak seperti kebanyakan orang yang terus berebut dan menyembah uang.

Surakarta, 26 April 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.