Ketika Jalaluddin Rumi mulai memasuki layar Hollywood, umat Islam kembali kecolongan. Bukan, bukan soal filmnya kalah duluan dibikin, katanya film “haram”, qiqiqi. Tapi, ini soal martabat umat Islam, yang memang sejak 6 abad silam digerogoti dan dihancurkan.

Di era ini, kita sedang “menikmati” itu, tanpa sadar dan tanpa kesedihan sedikitpun, sebab di balik kehancuran martabat itu, ada kehancuran nilai, kebudayaan, dan pergeseran pandangan hidup. Maka tidak perlu heran jika kebanyakan dari kita merasa fine-fine aja dengan segala yang berlangsung.

Wong Islam tinggal ritualnya saja, selama ritus-ritus hariannya tidak diganggu, selama eksistensi primordial dan parsialnya tidak direcoki, maka santailah umat Islam untuk saling meledek satu sama lain. Dan tentang kehancuran martabat itu, ah lupakan. Ia ndak laku diajarkan dan dikultumkan di suasana Ramadhan yang makin tahun makin mewah ini.

Yang lebih enak adalah mematerialkan syurga dengan imajinasi manusia, apalagi mayoritas manusia selalu merindukan kenikmatan materi, yang sayangnya ga kesampaian dicapai, makanya harapan berkelon dengan emas dan bidadari bisa diraih di syurga nanti kan. Varokah.

Ngawen, 21 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.