Bertahan pada kerangka ideologi mainstream dan doktrin negara terlalu erat akan membuatmu bertengkar. Bahkan bisa bunuh-bunuhan kalau terlanjur meletup.

Cobalah mulai sekarang beralih pada gagasan bahwa sesama manusia itu bisa hidup bertetangga dengan bertenggang rasa, tanpa harus dipusingkan urusan-urusan ideologi partisan dan aneka bentuk polemik negara.

Mari kita lihat tetangga kita sebagai manusia yang harus dihormati privasinya dan dijaga nama baiknya. Mari kita lihat teman kita sebagai sesama manusia, apa pun orientasi politiknya. Dan percayalah, kalau pas ketemuan nggak usah mbahas-mbahas yang begituan. Mari bahas hal-hal yang sama-sama dibutuhkan, golek pangan, soal lingkungan, dan hal-hal yang sedang kita hadapi bersama-sama. Rak hidup kita bakal kepenak.

Wis to nggak usah ruwet soal negara dan pemerintah. Saya yakin kok, nanti negara bubar sekalipun, kalau basis sosial masyarakat kita masih bertahan, ya ndak akan ada masalah. Yang bertengkar dan bunuh-bunuhan rak yo mereka yang termakan doktrin kekuasaan itu. Yang sudah berkomitmen untuk bertetangga baik-baik, ya akan tetap aruh-aruh dan saling bertetangga. Sebab berkeluarga dan bertetangga, tidak butuh institusi negara. Ada negara atau tidak, nek wis gede tetep kudu rabi dan meneruskan generasi, termasuk saling bertetangga satu sama lain. Iki tak nggo mingin-minginiĀ Ahmad Jilul Qur’ani Farid

Dengan realitas negara kayak gini, saya kok melihat lama-lama manusia akan sadar dan kembali ke gagasan muasalnya, memercayai sesama manusia. Jika kita memercayai seseorang ya kita berteman dan bersaudara, wis gitu thok. Hidup akan lebih sederhana dan tidak umyek kayak sekarang. Dan tentu saja, manusia akan bisa lebih fokus berkeluarga, mendidik generasi, dan bertetangga dengan nilai-nilai kebaikan universal yang sudah diajarkan para Nabi dari jaman baheula.

Mari berkeluarga, bertetangga, dan berteman dengan sebaik-baiknya. Kalau pun kita merasakan ketidakadilan negara, itu tidak terlalu menyusahkan kita, sebab ya nggak penting-penting amat. Jika banyak orang berpikir seperti ini, rasanya lingkungan sosial kita kok ya bakal adem ayem saja ya. Hooh ra?

Surakarta, 30 November 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.