Saya lebih senang narasi ibadah itu tidak disempitkan sekedar shalat atau baca al Quran. Tapi bagaimana meniati seluruh hidup dengan bismillah dan alhamdulillah.

Bangun tidur bersyukur. Terus bismillah ke kamar mandi untuk kencing. Wong yang memerintahkan kencing juga Allah lewat mekanisme tubuh. Jika kencingnya sesuai dengan adab maka itu ibadah. Terus wudhu dan shalat, shalat malam karena sangat dianjurkan (kalau bangunnya gasik, ga moloran kayak saya), atau langsung ke masjid untuk shalat subuh, karena itu kewajiban. Pokoknya bismillah dan alhamdulillah.

Makan itu juga ibadah, kan perut kita lapar karena mekanisme yang dirancang oleh Allah sehingga secara tidak langsung kita wajib makan. Bekerja juga ibadah. Kan kalau nggak berusaha seperti itu, pintu rizki yang terhormat nggak terbuka. Masak mau mengemis atau nunggu terus menerus turunnya makanan dari langit. Para nabi yang dikasih privilais semacam itu saja malu kok minta terus-terusan. Apalagi kita kok malas, nggatheli. Pokoknya bismillah dan alhamdulillah.

Setiap teknis pelaksanaan ibadah kehidupan tadi ada fikihnya. Dan yang namanya fikih, karena tidak ada satu pun di antara kita yang hidup saat ini bisa menonton kehidupan kanjeng Nabi secara visual (kecuali dapat kesempatan ke bioskopnya Allah untuk nonton kehidupan kanjeng nabi atau coaching clinic face to face sama beliau lewat mimpi) ya bersikap lentur sajalah. Jangan sampai eyel-eyelan sehingga hidupnya penuh kedongkolan dan saling menyesatkan.

Saling belajar, terus menggali informasi, terus nulisa kitab atau minimal nyetatus di fesbuk hasil belajar hari ini. Jangan dikunci dulu ini yang pasti benar, yang lain salah. Besok harus belajar lagi, mungkin yang kemarin salah, mungkin kurang pas. Dan begitu terus. Wong sama-sama tidak bisa menunjukkan sertifikat sebagai asistennya Allah, juga tidak pernah disupervisi malaikat kok do berlebihan. Saling mengingatkan seperlunya saja, sing sopan, dan tidak usah pakai emosi gitu ah.

Kita diciptakan untuk setiap detik ibadah. Artinya kalau pada detik tertentu fisiknya shalat, tapi pikiran dan hatinya ke doi atau ke duit, ya anggap saja kita bermaksiat. Cobalah berimajinasi, mosok Allah yang maha Hebat itu bikin rapor akhirat nanti cuma versi rapor SD yang ada mata pelajaran ini itu lalu ada nilainya. Cobalah berimajinasi dengan pendekatan zaman digital ini. Misalnya Allah membagi waktu kita dalam kisaran mikro detik, dan setiap mikro detik diberi nilai (BERIBADAH atau BERMAKSIAT). Kan ada berbiliun-biliun fragmen yang diberi label BERIBADAH (hijau) dan BERMAKSIAT (merah).

Nah kira-kira besok waktu diputer seluruh rekaman kehidupan kita dalam layar monitor raksasa, yang dilihat dalam skala mikro detik, banyak hijaunya atau banyak merahnya. Ini hanya imajinasi konyol saya dalam skala kecanggihan teknologi saat ini. Itu pun sejauh jangkauan akal saya, mosok Allah membuat mekanisme ketelitian hitungannya cuma seperti imajinasi saya. Pasti nggak sesederhana itu dan tidak mungkin secethek nalar berpikir saya. Mekanisme Allah melampaui akal kita yang sempit ini, yang menerawang akhirat saja nggak bisa.

Makanya mbok ya kepada saudara-saudara kita yang belum bersedia shalat, jangan dinilai lebih rendah dari kita yang sudah shalat. Kita sudah shalat kan karena menemukan keyakinan bahwa shalat diwajibkan oleh Allah kepada kita. Itu pun kita pas shalat ya mbuh juga motivasinya, kadang karena kepepet dan butuh duit, kadang biar keren karena teman-temannya shalat semua, dan seabrek niat yang cuma kita dan Allah yang tahu.

Tindakan ibadah itu adalah kewajiban dalam kemenyuluruhan hidup kita. Jika kita gagal beribadah, pasti jatuhnya kita maksiat. Dan di zaman ini, kok rasa-rasanya mending kita mengaku saja bahwa hidup kita itu penuh maksiat sekalipun fisiknya sok-sok terlihat menjalankan ibadah. Dari semua tindakan itu, ya semoga ada seuprit ibadah yang bisa bikin Allah terharu. Aja uthil le ngetung kayak pedagang gitulah, sok mbagusimen. Bisa bikin Allah terharu saja, sehingga Dia tidak jadi memasukkan ke neraka, meskipun sebagai gantinya disuruh-suruh ngepel di gerbang syurga wis to aku gelem pol. Syukur bisa diperkenankan ketemu Kanjeng Nabi, itu sangat luar biasa pastinya.

Juwiring, 16 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.