Menjadi aktor/aktris itu tidak hanya modal berani dan rupawan. Ada kecerdasan dan penghayatan yang mesthi di asah dengan tirakat yang panjang. Jika kemampuan aktingnya benar-benar matang, maka film atau drama yang ditampilkannya benar-benar menyentuh hati (dengan syarat skenarionya juga oke).

Itulah mengapa para aktor/aktris yang dibentuk dari dunia teater secara militan atau yang melalui akademi yang profesional memang benar-benar menghasilkan kualitas berakting yang luar biasa. Di Indonesia kita masih mendapati hal itu dari film-film jadul dan sedikit film layar lebar yang digawangi para senior film tanah air. Selebihnya mungkin sekedar tontonan kejar tayang yang entah mungkin hanya jadi mekanisme uang mengalir saja, dengan akibat merusak jutaan pikiran pemirsa karena mereka juga mulai tidak paham arti kualitas.

Demikian pula hidup kita. Bukankah kita jadi anak, lalu ada orang tua, ada tetangga, dan silih bergantinya tokoh yang menemani kita sesungguhnya hanya akting. Bukankah hakikat kita sama sebagai manusia saat dahulu menjadi ruh dan kelak kembali kepadanya. Jadi tak bisakah dikatakan bahwa Rasulullah dan para nabi diutus itu mengajari manusia untuk berakting dengan benar. Karena kalau menyalahi aturan, pentas drama dunia menjadi kacau balau. Sehingga Allah bisa saja marah dan melenyapkannya.

Bahasa umum untuk aktingnya manusia itu adalah bekerja mengkhalifahi kehidupan sesuai perjanjiannya dengan Allah. Dan keseluruhan aktivitas itu adalah ibadah. Jadi alangkah sekulernya jika ada orang menilai shalat lebih mulia dari menolong orang sakit. Keduanya adalah hal yang baik yang harus dilakukan semuanya karena itu tugas akting kita. Yang penting saat sholat ikuti SOP-nya, saat menolong orang sakit juga ikuti SOP-nya. Namun hari ini banyak aktor/aktris mulai unggul-unggulan karya aktingnya, hingga tak jarang gelut. Dan saya yakin bahwa gelut adalah bagian dari kesalahan akting.

Demikianlah sandiwara episode dunia kita. Semoga kita berkesempatan nonton hasil akting kita di syurga sana. Aamiin.

Surakarta, 30 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.