Beberapa kampus menutup jurusan-jurusan yang dianggap tidak prospek dan lulusannya tidak dapat diserap dunia kerja. Termasuk salah satunya kampusku tercinta, yang menutup jurusan pendidikan luar sekolah. Qiqiqi.

Iki kode yang sangat jelas bahwa kampus-kampus sekarang memang bukan lembaga pendidikan dalam arti yang seharusnya, tetapi badan ekonomi yang bekerja berdasarkan prinsip supply and demand. Bukan membentuk manusia seutuhnya, tetapi mencetak manusia sesuai kebutuhan. Kebutuhan apa? Industri lah.

Jika kampus yang seharusnya banyak melakukan bid’ah (inovasi), menumbuhkan kultur baru di tengah masyarakat, dan merintis hal-hal baru untuk menghapuskan penyakit sistemik saja justru mengikuti alur berpikir masyarakat gini. Bagaimana dengan masyarakat yang sejak matanya melek sampai tidur gurunya adalah TV, Facebook, dan Hadratusy-Syaikh Google al Amrikiyah al Onleniyah? Apa mereka sempat mikir untuk memperbaiki kehidupannya.

Jadi, jika kita masih terperangkap pada wacana bahwa pendidikan = sekolah, maka tidak heran jika sistem kolonial yang sudah dibangun sejak era Daendels akan tetap abadi hingga hari ini. Karena sekolah-sekolah mainstream itulah yang melestarikan tradisi persekolahan Daendels yang pertama kali mengenalkan sekolah pada bangsa Indonesia. Iya, Daendels-lah bapak pendidikan kita jika acuannya adalah siapa yang pertama kali mengenalkan model sekolah Barat.

Jika kita melihat dengan sudut pandang yang luas, tidak ada bedanya tahun 2000-an awal ini dengan tahun 1900-an, selain hanya soal kemewahan fisik dan kecanggihan alat-alat sebagai produk dari teknologi. Bagaimana persekolahan kita diikendalikan kepentingan industri, bagaimana pemerintahan kita dikangkangi industri, bagaimana cara beragama kita yang juga tetap dangkal sebatas urusan ritual, dan tetap saja kita melihat rakyat yang mudah ditipu aneka rekayasa.

Jadi, jika kita memang mengaku menjadi kaum intelektual, apakah kita siap melanjutkan perjuangan Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang mendidik masyarakat dengan media massa, dan HOS Tjokroaminoto yang menggalang kekuatan politik untuk membelajarkan masyarakat arti berorganisasi, setelah disadarkan melalui media massa. Mampukah kita seperti mereka, yang mengorbankan kehidupannya, dan siap berhadapan dengan pemerintah saat itu. Bukan sebagai pemberontak, tetapi sebagai guru masyarakat, dan sudah pasti memang tetap akan dituduh sebagai pemberontak yang anti gubermen.

Sekarang kita sedang diaduk-aduk untuk baper dan membenci orang. Padahal yang jadi masalah adalah anasir-anasir jahat yang bersemayam dalam pikiran dan hati kita. Kita tidak membenci personal profesor-profesor di kampus yang kebanyakan menghabiskan dana penelitian untuk hal-hal yang tidak penting, tetapi kita hanya membenci tindakan mereka yang membuat penelitian-penelitian yang useless semacam itu. Kita tidak membenci personal anggota dewan dan birokrat kita, tetapi kita hanya membenci perilaku mereka yang korup dan suka menyalahgunakan wewenang. Kita terlalu jauh diprovokasi agar terbiasa membenci personal, padahal namanya manusia, ya ada sisi baiknya, ada sisi buruknya.

Sebagai kaum intelektual, kita dididik untuk mengidentifikasi, bukan untuk waton nggebuki. Kita dididik untuk mengenali inti masalah, dan mengambil peran dalam menyelesaikannya. Ada yang di bidang pendidikan masyarakat, ada di bidang advokasi, ada di bidang inovasi, ada di bidang propaganda dan perlawanan. Tentu saja, itu semua tidak akan mampu dilakukan, jika niat kita tidak kuat. Apalagi jika tindakan-tindakan itu hanya sebatas untuk tujuan eksistensi diri sendiri. Jika yang dikejar hanya eksistensi diri sendiri, pada saatnya nanti justru akan meledak menjadi generasi perusak selanjutnya.

Di antara kita pasti banyak yang tidak mengenal Syaikh Muhammad Khalil Bangkalan, padahal murid-murid beliaulah yang mendirikan NU dan Muhammadiyah yang hingga hari ini tetap mengayomi bangsa ini. Di antara kita pasti juga banyak yang tidak mengenal Raden Mas Tirto Adhi Soerjo maupun HOS Tjokroaminoto secara luas, padahal merekalah mentor lahirnya kaum pergerakan nasional, seperti Soekarno dan Kartosoewirjo. Kita perlu menyelami akar-akar perjalanan pergerakan bangsa ini dalam membangun kesadaran dirinya sendiri. Yang penting kita sadarkan diri kita, barulah kita akan mampu menyusun metode yang baik, secara original maupun mengadaptasi dari luar.

Kaum intelektual di kampus (mahasiswa dan dosen-dosennya) mendapat tantangan, apakah kampusnya tetap akan dijadikan Universitas atau justru dibangun menjadi Kompaniversitas (istilah bikinan saya sendiri). Jika benteng terkuat di negeri ini (kampus) justru runtuh, maka jangan tanya lagi soal pemerintahan, parpol, dll, karena sudah dapat ditentukan nasibnya. Di lain pihak, kebudayaan masyarakat kita terus dihancurkan lewat TV dan aneka media yang dijejalkan tanpa pengawalan. Masyarakat tak berdaya menghadapi berbagai kehancuran itu. Masyarakat kini sudah mulai senang dan menikmati gelut satu sama lain.

Jadi kaum intelektual, siap-siap disidang paling awal di akhirat nanti bersama beberapa golongan tertentu saja. Tentu saja, karena kaum intelektual sudah mendapatkan karunia pengetahuan dan ilmu dari Allah, maka dia harus mempertanggungjawabkannya dengan sebaik-baiknya. Makanya, Cak Nun sering menyindir, kalau tidak ingin kena beban dosa apa-apa, jadilah manusia yang sebodoh-bodohnya agar tidak tahu apa-apa sehingga tidak dikenai tanggung jawab apa-apa. Mau seperti itu saja to?

Jadi apa langkah kita selanjutnya? Mari kita pikirkan dan lakukan. Terserah pilihan masing-masing.

Juwiring, 5 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.