Saya tidak sepenuhnya setuju dengan orang yang menumpahkan segala kesalahan kepada Pemerintah Arab Saudi yang terlanjur membangun kawasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebagai tempat komersil yang paling menjanjikan devisa melimpah di abad ini. Toh, kuburan-kuburan para wali di mana pun di dunia ini juga tidak jauh beda nasibnya. Di Indonesia, semua kuburan para wali yang terlanjur terkenal nasibnya tidak jauh beda dengan Haramain, tempat yang menjanjikan keuntungan ekonomi.

Sebenarnya tidak masalah bahwa di tempat-tempat yang sangat bersejarah bagi umat Islam itu ekonominya hidup. Tapi kalau ekonomi itu menjadi ikon utama dari situs sejarahnya berarti kan ceritanya kamu bikin mall, di dalamnya kamu taruh mushola, artefak, atau perpustakaan kan. Maka yang diingat publik adalah mall-nya, bukan apa yang ada di dalamnya. Dari orang-orang yang berhaji, berapa persen yang peduli dengan perjalanan sejarah Nabi dan umat Islam yang berdarah-darah mempertahankan akidah? Dari orang-orang yang ziarah ke makam wali songo, berapa persen yang benar-benar ingin menenang jasa mereka meng-Islam-kan tanah Jawa dan Nusantara ini? Beruntung sekali kita tidak dipinjami oleh Allah data statistik doa-doa umat manusia di abad modern ini ketika berziarah ke Haramain maupun ke makam para wali.

Saya cuma mau bilang, kita punya problem serius dengan cara berpikir kita. Jika kita ingin berjumpa dengan Imam Mahdi dan melihat Dajjal yang sudah hadir dengan terang, perbaikilah cara berpikir kita. Apakah kita yakin bisa beriman pada Nabi Muhammad jika kita dihidupkan pada zamannya, sementara cara berpikir kita seperti saat ini? Apakah kita bisa yakin bahwa seorang Bapak yang akan menyembelih anaknya itu adalah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih Nabi Ismail, jika cara berpikir kita serusak saat ini? Apakah al Quran akan memberi manfaat bagi kehidupan kita jika cara kita berinteraksi dengan al Quran masih jumud dan berpecah belah seperti yang kita saksikan sendiri saat ini?

Juwiring, 4 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.