Hari-hari yang semakin penuh kebohongan. Bahkan membela yang benar pun justru menimbulkan kegaduhan baru. Bukan fakta benarnya yang menang, tapi ributnya yang membesar. Keributan adalah sumber bisnis yang lebih menjanjikan.

Dari sektor internet saja, Google, FB dkk berhasil meraup untung (yang dilaporkan) Rp 14 T dari Indonesia. Kira-kira berapa persen dari keuntungan tersebut yang sumbernya dari keributan informasi dan hoax-hoax yang bertebaran.

Nah bagaimana dengan ISIS? Perusahaan “bandit” yang karyawan-karyawannya adalah anak-anak muda militan yang tugasnya menciptakan keributan dengan mengatasnamakan kebenaran Tuhan dan Islam. Coba tebak kira-kira cashflow-nya berapa miliar USD dari hasil perampokan, penjarahan, dan penguasaan ladang-ladang minyak?

Keributan memang didesain secanggih mungkin agar tidak benar-benar meletus dengan cepat, tetapi juga jangan sampai terselesaikan. Karena sebaik-baik momentum mengeruk kekayaan adalah pada kondisi mengambang. Karena kondisi mengambang adalah tanda bahwa manusia itu mengalami kemunafikan. Dan bukankah ayat-ayat tentang kemunafikan itu lebih banyak dari pada ayat-ayat tentang kekafiran?

Setidaknya sumber keributan hari ini mudah diciptakan karena kapitalisasi perasaan yang melahirkan kepedulian dan difasilitasi media sosial. Simulasinya sederhana, yakni bikin saja orang ribut pada urusan-urusan yang tidak primer bagi dirinya dan lingkungannya. Jadi masalah dirinya tidak selesai, malah dia menciptakan aneka masalah baru akibat benturan yang diciptakannya sendiri.

Jika 50 juta orang melakukan hal yang sama, maka minimal ada 50 juta masalah yang tidak terselesaikan, dan ada potensi 50-juta! (baca faktorial) masalah baru yang bisa berlipat ganda. Nah andaikan dari 50 juta orang itu misuh-misuh lalu bikin status di Fesbuk, Twitter, dll dengan estimasi Rp 10 per orang per hari dari paket data yang digunakan berapa keuntungan yang diraup perusahaan operator dan jaringannya.

Belum lagi jika potensi 50-juta! masalah itu katakanlah 5% benar-benar menjadi masalah di sektor pendidikan, ekonomi, bahkan militer, apa yang akan terjadi. Siapa yang diuntungkan. Siapa yang hancur dari masalah-masalah yang dibesar-besarkan ini? Hihihi, yang pasti jika yang 50 juta ini adalah umat Islam alangkah malangnya, alangkah ngenesnya. Sudah syurganya belum tentu dapat, malah murkanya Allah pasti kalau kayak gini diterus-teruskan, karena melanggar larangan al Quran agar tidak saling berpecah belah.

Kamu mau ikut ambil bagian?

Juwiring, 2 Mei 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.