Pepeling simbah : Kata “tadabbur” terdapat dalam beberapa ayat al Quran, dan tak ada satu pun kata “tafsir” dalam kitabullah tersebut. Kenapa di era modern ini, kata tafsir justru lebih mainstream dari pada tadabbur. Padahal tadabbur itu kewajiban utama setiap orang yang beriman pada al Quran, sedangkan tafsir tidak dibebankan kecuali hanya pada ahlinya saja, yang menguasai ilmu-ilmu alatnya. Lalu apa itu tadabbur? Dan sudahkah kita melakukannya?

Pepeling pak yai : Kata mukallaf (yang diberi beban) sudah lazim dalam kajian fikih. Sehingga hukum-hukum Islam sering disebut hukum taklifi (pembebanan). Padahal sumber-sumber hukum Islam itu ya dari Allah melalui Rasulullah. Apa kita mau menyebut Allah sebagai mukallif (pemberi beban)? Padahal dalam ungkapan al Quran yang selalu diulang-ulang adalah orang-orang yang shaalih (yang diberi tugas melakukan perbaikan). Mengapa hukum-hukum Islam tidak disebut saja sebagai hukum islahi (yang memperbaiki), sehingga kita akan lebih nyaman menyebut Allah dan rasul-Nya sebagai muslih (yang melakukan perbaikan). Shalih adalah antitesis dari fasad (kerusakan) yang kini tengah menjalar di segala bidang.

Jika Rasulullah saja shalat itu karena ingin mewujudkan syukur, masak kita malah menjalankan shalat karena rasa terbebani. Bahwa Allah berfirman akan memberi beban pada hamba-Nya sesuai dengan ukuran kemampuan hamba-Nya, itu dalam rasa kepantasan sebagai seorang Gusti ya sah-sah saja to. Tapi masak kita yang jadi kawula kok kewanen menyebut-Nya sebagai pemberi beban, sementara Kanjeng Nabi yang jadi junjungan dan panutan kita saja menjadikan seluruh amanat dakwah bukan sebagai beban gitu kok.

Dan pada kenyataannya, hidup ini akan indah jika setiap manusia itu menjalankan sesuatu karena kesadarannya, bukan karena keterpaksaan. Kok model pembebanan selalu dibesar-besarkan. Itulah mengapa tidak heran jika para ulama kebanyakan menggunakan metode sosial kebudayaan dalam dakwah mereka dari masa ke masa. Ulama itu biasanya baru kelihatan “sungunya” kalau penguasanya pas benar-benar zalim banget dan beliau datang sendiri ke istana face to face, head to head untuk menegurnya. Sekarang? Ada yang kek gitu?

Di usia 25 tahun ini, ternyata saya masih sangat unyu soal bahasa dan memahami makna kata. Karena dari kata dan makna yang ada di kepala kita, iman dan manifestasi Islam akan terbentuk. Setiap kita bisa-bisa saja menyebut Allah, bismillah, hamdalah dan sebagainya, tapi makna dan kedalamannya urusan masing-masing kan. Makanya tidak heran jika hari ini kita mudah sekali ditipu oleh aneka berita palsu yang seolah-olah mengutip kalimat al Quran dan hadits. Belum lagi penipuan melalui mekanisme terstruktur di media massa, kurikulum pendidikan, dan ideologi-ideologi penggalan yang sedang laris dijual saat ini. Ya Allah, selamatkan kami dari kedustaan yang sangat nyata hari ini. Terangi hati kami agar tetap bersinar dengan kejujuran, walau di luar kami tak berdaya karena kegelapan yang begitu pekatnya.

Juwiring, 3 Mei 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.