Shalat wajib yang dilakukan Nabi yang bisa disaksikan oleh umat Islam kala itu kira-kira sejumlah 5 x 365 hari x 10 tahun = ???. Di masa beliau hidup dan menunaikan shalat, tentu terjadi pergantian waktu, pergantian musim. Sebagai seorang manusia, beliau tentu kadang kedinginan, kepanasan, mungkin juga pegal-pegal, dan kadang mengalami berbagai hal yang sifatnya manusiawi selama shalat. Kadang bacaan shalatnya pendek, kadang dipanjangkan. Kadang baca doa A, kadang baca doa B, dll. Yang pasti selama shalat, prinsip gerakan dasarnya selalu sama, jumlah rakaatnya sama (kecuali ada peringkasan ketika sebab-sebab yang juga dia contohkan). Lha kok umat Islam sekarang masih kerengan bab fikih semacam ini? Apa ndak kurang kerjaan namanya.

Saat nabi hidup, beliau dikelilingi orang-orang yang kita sebut sebagai sahabat. Ada sahabat yang menjadi partner beliau sejak awal dakwah Islam sampai menyaksikan beliau wafat, ada yang datang di pertengahan atau di akhir saja sampai melihat beliau wafat, ada yang di tengah-tengah fase dakwah lalu ditugaskan menjadi juru dakwah di tempat lain tanpa pernah berjumpa dengan beliau lagi. Apa yang mereka bawa? Tentu saja pokok-pokok ajaran tauhid bukan. Adapun pengamalan fikih, para sahabat sudah pasti menggunakan ijtihad mereka. Maka warna-warni madzhab fikih dalam Islam adalah keniscayaan, selama itu tidak menyangkut pokok-pokok agama. Kan tidak masuk akal kan, jika ada update terbaru di Madinah, terus sahabat yang ditugaskan di Yaman di WA, “Akh, ada update terbaru ajaran Islam dari Madinah bahwa ….”. Jadi bagaimana mungkin beragama kita menafikan adanya madzhab? Yang mengaku anti-mazhab sekalipun, ya itu berarti golongannya bermadzhab juga kan (namanya golongan anti-madzhab). Yang tidak boleh adalah fanatik madzhab sehingga membuat kita enggan mempelajari madzhab-madzhab yang lain dengan baik.

Islam itu agama fitrah yang Allah turunkan dari masa ke masa dan disempurnakan lewat ajaran yang dibawa Rasulullah yang dibuktikan dengan pengalaman al Quran secara sempurna pada dirinya. Adapun selainnya maka tidak mungkin ada satu manusia pun yang sanggup mengamalkan Islam secara sempurna seperti Rasulullah. Maka kehidupan manusia sepeninggal nabi juga tidak akan semulus kehidupan nabi (yang sebenarnya penuh dengan ujian dan penderitaan juga), dan jelas tidak akan lepas dari perselisihan. Wong selama Nabi hidup, orang munafik saja ada dan tetap hidup damai, apalagi sepeninggalnya. Maka sejarah peradaban Islam tidak melulu diisi dengan kisah romantis dan kehidupan manusia suci. Peradaban Islam ya seperti umumnya peradaban, tetapi dengan dua ikon yang sangat termashyur, yakni penegakan keadilan dan kecintaan terhadap ilmu. Tetapi bahwa di masa kejayaan Islam, ada perang saudara antar umat Islam bahkan itu sudah dimulai sejak masa sahabat, maka wajar. Bedanya dengan sekarang, kala itu umat Islam masih memiliki semangat untuk mengupayakan persatuan, sementara hari ini justru semakin suka berpecah belah, terutama dengan doktrin-doktrin fikih sektarian yang cenderung memicu adu mulut antar umat Islam. Semakin kita dibukakan pintu ilmu, seharusnya semakin bisa ngemong umat Islam agar bersatu, bukan saling bermusuhan, apalagi berbantahan atas nama kebenarannya sendiri-sendiri. Apalagi memprovokasi yang lain untuk saling menyesatkan.

Maka dari semua kerumitan umat Islam hari ini, sesungguhnya ada poin-poin mendasar yang seandainya kembali dipegang, niscaya kita akan selamat dari berbagai kesesatan dan perselisihan. Kita buka kembali hadits arbain no. 2, pegang kembali rukun IMAN yang 6 itu, kemudian amalkan rukun ISLAM yang 5 itu, dan jalani kehidupan dengan IHSAN, karena kemenyeluruhan hidup kita adalah ibadah. Dan saat ini seharusnya kita bersiap-siap menyongsong akhir zaman yang tanda-tandanya sudah hadir di depan mata. Seberapa sungguh-sungguh kita mempersiapkan diri menghadapi tipu daya yang begitu gelap nantinya. Jika dia datang, maka dia akan membuat perhitungan dengan manusia. Negeri yang mengikutinya akan menjadi makmur sentosa, negeri yang menentangnya akan dijadikannya kering. Dia datang menawarkan “syurga” dan “neraka”, dan orang-orang yang benar-benar beriman pasti memilih “neraka”-nya. Tapi siapa yang sanggup memilih neraka, wong sekarang saja kita mudah mengeluh dan mudah ditipu habis-habisan oleh keadaan yang berjalan selama ini.

Dan karena kita masih kurang beriman, masih percaya pada tipu daya yang ada, maka kita hingga hari ini tetap bertengkar. Setidaknya dalam diri kita dipenuhi segala prasangka yang kotor terhadap manusia lainnya.

*Sebuah tulisan koreksi untuk diri sendiri dan yang berkenan untuk turut introspeksi.

Juwiring, 21 April 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.