Berjamaah itu untuk melipatgandakan amal sosial. Tapi soal ilmu dan keimanan itu individual.

Jadi untuk memahami sesuatu itu baik dan buruk itu dari belajar dan berguru. Dan katakan ini baik dan buruk berdasarkan hasil berguru diiringi keyakinan dalam hati, tanpa harus nunggu koor bersama.

Dan yang namanya orang belajar, pendapatnya hari ini mungkin akan diperbaiki di kemudian hari dengan pendapatnya yang baru. Wong Imam Syafii saja punya qaul qadim dan qaul jadid. Lha apalagi yang belajarnya nggabrus macam kita.

Makanya biasakan beropini sendiri, mewakili diri sendiri, dan bertanggung jawab terhadap pendapat sendiri. Ora sithik-sithik gelut, jarene ustadzku ngene, kowe salah. Lha rumangsamu ustadzmu ki sapa? Kok kowe kemaki tenan rumangsa paling bener dewe.

Dan seandainya umat Islam mau bersikap seperti ini, setidaknya tidak akan ada ribut serius antar golongan. Wong setiap orang adalah pribadi sendiri yang bersama karena Islam, bukan ndepel pada Islam merk A, B, C, D.

Tapi lagi-lagi, mikir itu berat, belajar itu males, apalagi bertanggung jawab dengan pendapat sendiri. Paling gampang kan lempar tanggung jawab. Paling gampang lagi nyalahke pihak lain dan cuci tangan.

Makanya kerja keras itu berat, paling enak ngapusi, nyolong, dan memperalat orang lain.

Juwiring, 30 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.