Waktu diwejang soal kaliber, saya belajar tentang strata sosial dan ukuran kepantasan. Strata sosial itu pasti ada. Dan kehidupan yang egaliter itu bukan berarti menafikan strata sosial, tetapi menempatkan kelas dan strata sosial pada proporsi yang tepat.

Di dalam lingkungan sosial pasti ada strata begawan, ksatria, waisya, dan sudra (meminjam term kelas sosial salah satu wacana agama). Selama kepentingan ekonomi dan kekuasaan tidak mendominasi, proporsinya akan pas.

Seorang begawan gengsinya pada ilmu, kebudayaan, dan ngemong umat dalam arti spiritual. Dia tidak akan merendahkan dirinya rebutan kursi kekuasaan sekedar untuk mendapat emas atau posisi. Kalaupun ia turun gunung, pasti untuk suksesi ksatria yang pantas. Dalam konteks sejarah Islam kita bisa melihat bagaimana para ulama besar yang masyhur itu independen dari kekuasaan politik, tetapi pengaruh mereka di tengah umat melebihi para sultan yang berkuasa. Mereka memiliki madrasah yang berdiri sendiri dan terus mencetak ulama berikutnya.

Seorang ksatria, dia kelasnya memang untuk bertarung di kekuasaan dan politik. Tapi ksatria yang sejati, dia tahu etika dan mengerti aturan bertarung. Kepada lawannya yang kalah, akan diperlakukan dengan hormat. Demikian pula seorang waisya, kecakapan politik dan kepemimpinannya yang rendah jelas membuatnya tidak akan tertarik di dunia politik. Mereka lebih menekuni pekerjaan-pekerjaan dan target dagang. Apalagi sudra, mereka tidak akan lompat pagar jadi begawan. Saya tidak sedang mengulas kasta sosial dalam agama Hindu. Saya hanya meminjam 4 term tadi untuk menggambarkan elemen-elemen masyarakat pada umumnya.

Problem yang sekarang timbul lebih banyak disebabkan karena kita tidak tahu kaliber kita. Ketidaktahuan ini membuat ukuran pantas tidak pantasnya diri kita tidak jelas. Ketidakjelasan ini biasanya dikarenakan oleh kabut kepentingan ekonomi dan kekuasaan yang membabi buta. Dorongan nafsu yang sedemikian kuat membuat kita cenderung memaksakan diri dan merasa lebih pantas dari yang lainnya, tapi tidak tahu diri. Makanya kita sering jumpai begawan terpaksa jadi ksatria karena para waisya dan sudra rebutan jadi ksatria dengan mekanisme kartel. Tapi karena keseringan jadi ksatria akhirnya betah di kursi istana. Sementara para ksatria sendiri magel karena suka nyambi jadi waisya, kadang malah nyudra. Yang parah adalah kalau kita mengalami krisis begawan dan ksatria, lalu banyak waisya dan sudra yang dianggap ksatria lewat media pencitraan. Dan yang paling berbahaya adalah saat waisya dan sudra ditempatkan sebagai begawan.

Kalau sudah seperti itu apa yang seharusnya kita muhasabahi? PENDIDIKAN dan KEBUDAYAAN. Lalu kita usahakan perbaikan di kedua bidang itu agar begawan dan ksatria sejati kembali lahir. Lahirnya kembali mereka, tertatanya kehidupan para waisya dan sudra yang kini menduduki maqamnya para begawan dan ksatria.

Juwiring, 17 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.