Berdasarkan penangkapanku, soal Jakarta yang begitu berisik dan mengganggu pemandangan linimasa fesbuk saya beberapa hari terakhir ini adalah soal “siapa” yang pantas memimpin Jakarta. Sebatas itu thok. Saya tidak yakin ukuran “pantas” itu nanti dapat menyelesaikan masalah atau tidak. Sebagaimana formalitas berpikir hari ini, yang penting “sekolah”, entah nanti menjadi solusi dalam pembangunan SDM yang benar-benar menjadi manusia atau tidak.

Kutub yang sementara ini terjadi, golongan pro-incumbent akan membuat citra maksimal bahwa yang didukung itu bersih dari korupsi. Pretttttt. Sebaliknya, yang antipati akan mencari-cari kesalahan sebanyak mungkin untuk menjelekkan si incumbent. Kurang kerjaan. Dan selebihnya adalah penonton yang perasaannya tidak karuan karena melihat begitu sengitnya perlawanan yang luar biasa ini. Kadang sambil ngopi-ngopi, kadang sambil ngakak-ngakak.

Dan drama ini sebenarnya bukan yang pertama kalinya. Sejak NKRI yang konon dianggap belum berdemokrasi direformasi agar menjadi lebih demokratis, maka kekisruhan periodik akan terus terjadi. Tentu saja diiringi korupsi yang menggila. Jika dulu hanya yang direstui keluarga Cendana, sekarang semua bisa korupsi segalanya. Termasuk korupsi gegeran di fesbuk (termasuk saya ini) yang meningkatkan pendapatan Fesbuk sementara Menkeu hingga hari ini belum berhasil mencekik Fesbuk agar membuka kantor dan setoran upeti kepada NKRI.

Di dalam situasi pengkutuban yang parah ini, informasi-informasi akademis rawan dipelintir untuk kepentingan politis. Sebaliknya, informasi akademis yang memang sebenarnya netral rawan dicurigai adalah bagian dari kampanye politik. Dan rakyat yang terbiasa menelan informasi cekak aos, sudah pasti jadi bulan-bulanan media massa yang sudah mafhum mereka tidak sungguh-sungguh menyajikan informasi. Hampir semua media massa saat ini ya cari duit, sambil menyebar informasi, kadang hoax, kadang provokasi, kadang tuduhan keji. Makanya saya selalu berdoa semoga geng saya yang jadi publisher meluruskan niat dalam mencari duit, sehingga meminimalisir informasi-informasi merusak dalam web-web bikinan kami. Kami sajikan saja informasi-informasi bahagia untuk menjadi alternatif di saat informasi provokatif dan hoax dari kutub-kutub yang sedang bertarung sekarang terus diproduksi.

Lalu harus bagaimana? Saya usul, siapa pun teman kita yang hari ini berapi-api menjadi relawan online di medsos, mari kita ajak ngopi. Mari kita ajak main kelereng, domino, remi, atau permainan tradisional kita. Asal jangan CoC-an, apalagi pakai komputer yang prosesornya Intel buatan Haifa Israel. Sesungguhnya Kementerian Keuangan kita belum berhasil melabuhkan Fesbuk dan teman-temannya untuk membuka kantor dan pasang server di Indonesia, lalu setoran pajak banyak kepada NKRI. Jadi kita harus bersabar dulu untuk menunggu pemerintah berhasil memaksa mereka ngantor di Jakarta dan jadi sapi perahnya pemerintah.

Nanti kalau sudah ngantor silahkan perang lagi yang ramai sekalian, karena peperangan medsosmu memberi kontribusi pajak yang besar kepada negara. Setidaknya jasamu besar untuk menyediakan lahan korupsi baru bagi peningkatan pajak yang akan dihasilkan dari perang medsosmu. Tahukah kamu, ada banyak orang-orang yang masih belum berkesempatan untuk korupsi karena pendapatan negara masih kurang banyak. Jadi sebagai rakyat yang lebih besar dari NKRI, mari kita sediakan lahan korupsi sebanyak-banyaknya kepada mereka yang memang ringkih hidupnya. Kasihanilah mereka yang terlanjur bergaya hidup mewah, kurang penghasilan karena kalah rebutan proyek sama saingannya. Maka kita sebagai rakyat harus bekerja lebih giat lagi membuka lapangan korupsi. Kalau rakyat bisa membuka lapangan korupsi bagi pejabatnya, otomatis soal lapangan kerja jauh lebih terselesaikan dulu. Nyediain duit untuk dikorupsi aja bisa, apalagi cuma lapangan kerja. Logikanya gitu kan. Bwahahaha

Dan bagi yang terlanjur nglaras dan santai kayak saya ini, mari kita nikmati kehidupan yang indah di luar perangkap informasi yang kayak labirin ini. Ya sesekali kita masih terperangkap tidak apa-apa yang penting tidak keluar dari perangkap yang satu masuk ke perangkap yang lain.

Dan untuk Jakarta yang semakin berisik, dari dulu saya memang agak benci-benci cinta denganmu. Setelah saya melihat Berlin, saya jadi cinta kamu, karena pemandanganmu lebih berwarna dari Berlin. Di Berlin tidak ada banjir, tidak ada kemacetan yang bisa diambil gambarnya dari jembatan penyeberangan, tidak ada ironi-ironi yang menghidupkan nurani kami untuk peduli. Maka Jakarta tetap indah bagiku, sekalipun gaduh dan sekarang dihiasi aneka pisuhan, baik dari orang nomor 1-nya yang misuhi, maupun yang dipisuhi lalu mbalas misuhi.

Dan untuk yang masih jadi pendukung setia salah satunya, saya sarankan sebelum melanjutkan lebih jauh, perjelas dulu negosiasimu. Pastikan kamu udah teriak-teriak kayak gitu, ada kompensasinya atau tidak. Kalau tidak jelas bayarannya, ya ngapain udur-uduran. Apalagi sampai benci-bencian sama saudara sendiri gara-gara orang lain. Aneh kan.

Surakarta, 15 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.