Ada yang berpendapat bahwa memahami Quran jangan pakai akal. Menurutku ini sebuah bentuk kegagalpahaman berbahasa. Lha Quran itu panduan bagi umat yang mempergunakan akalnya je. Dan yang membedakan manusia atau bukan ya dilihat dari penggunaan akalnya.

Karena bagi orang yang tidak berakal, Quran yang mulia itu bisa dijadikan kitab panduan menjadi teroris. Bagi orang yang tidak berakal pula, Quran yang mulia itu bisa dijadikan bahan dagelan tersebab kedangkalan merekamemahami makna dan kandungannya. Jadi dua kutub ekstrim (baik yang cupet maupun yang liberal) sebenarnya justru akibat perilaku mereka yang tidak menggunakan akalnya dengan semesthinya.

Pertanyaannya, Quran itu apa? Buku yang berisi huruf Arab dengan isi 114 surat dan 6000an ayat itu? Atau apa? Selama konsep kita tentang Quran ini tidak kita hayati dan kita proses terus dalam belajar yang panjang maka akan ramailah orang memperdebatkan terjemahan Quran. Tahu satu dua ayat langsung buat debat di status FB dan WA. That’s real fact in the modern era. Untuk seperti itukah Quran diturunkan di tengah-tengah manusia?

Surakarta, 21 September 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.