Sebuah opini tentang degradasi keilmuan umat Islam.

Sejak kolonialisme mendominasi dunia, cara pandang dunia Islam pun terpengeruh dengan metode spesifikasi ilmu. Ciri khas pendidikan di Barat kala itu membentu kaum-kaum sekuler yang ahli dibidangnya. Maka ada ahli senjata, ahli biologi, ahli fisika, ahli kimia, dan sebagainya. Dunia timur dan umat Islam sekarang sedang sibuk berpolemik semacam ini. Apalagi dalam Islam ada dimensi dunia dan agama.

Maka keributan sudah pasti terjadi antara kaum ulama (yang identik ahli agama) dan ilmuwan (yang identik ahli di bidang ilmu keduniawian), padahal dahulu hakikat mereka sama-sama ulama, karena kata “ulama” kan untuk mendefinisikan mereka yang memiliki pemahaman atas ilmu. Lha sekarang, bahasa berkembang dan salah paham adalah habitat primer umat Islam, khususnya umat Islam Indonesia. Tidak ada keindahan yang lebih indah dari umat Islam di sini selain debat dengan tingkat kesalahpahaman bahasa tingkat tinggi.

Padahal dalam Islam, kehidupan manusia itu integral dan holistik. Tidak ada spesialisasi ilmu, yang ada kodifikasi ilmu. Kodifikasi ilmu tersebut lahir setelah Islam menyebar luas dan ada problem-problem yang timbul. Maka ulama berijtihad agar problem tersebut terselesaikan. Di masa Rasulullah, Islam hadir sebagai konsep nilai yang syumul (menyeluruh) dalam mengatur tentang hidup. Sehingga jangan bertanya di masa Rasulullah ada istilah pasal hukum fiqih, akidah, dll. Yang ada di masa Rasulullah itu cuma dua piagam, Piagam Madinah dan Piagam Perdamaian Hudaibiyah. Masyarakat hidup dengan akhlak dan kesadaran yang mereka ciptakan setelah belajar dari wejangan-wejangan Rasulullah.

Begitu Islam memasuki era kekhalifahan, para khalifah mulai melakukan jihad pembebasan sesuai janji nubuwah Rasulullah bahwa Yaman, Persia, dan Mesir-Syam (Romawi Timur) akan dibebaskan. Maka para khalifah menggenapi janji tersebut, dan karena memang janji Nubuwah atas pertolongan Allah pasukan Islam dapat menaklukkan para penguasanya dan dakwah Islam bisa dijalankan di sana oleh para sahabat.

Karena kini penganut Islam tidak hanya dari kalangan bangsa Arab akhirnya mulailah timbul masalah. Dalam soal penulisan huruf-huruf al-Quran karena waktu itu masih huruf kufik dan tidak ada harakat dan titik (bayangno jal), maka menurut salah satu guru yang memberiku pelajaran tentang ini, dimanfaatkan oleh oknum untuk menghasut masyarakat agar merongrong khalifah Utsman bin Affan. Mereka membuat tuduhan palsu dari surat khalifah yang dibaca dengan penafsiran lain sehingga masyarakat marah dan akhirnya membunuh beliau. Maka akhirnya lahirlah ilmu khat (penulisan huruf al-Quran)

Kemudian juga muncul masalah berkaitan dengan penuturan bahasa Arab dan kekhawatiran masalah dialek di luar bahasa Arab Quraisy yang menjadi bahasa al-Quran akan mengotori kalamullah tersebut. Maka disusunlah kaidah-kaidah bahasa Arab yang resmi, seperti nahwu dan sharaf. Ini pun ada madzhab-madzhabnya, ada aliran ism dan fi’il karena berkembang di dua kota Persia, Kuffah dan Bashrah. Menurut penuturan guru saya.

Lalu umat Islam juga harus menghadapi berbagai filsafat dari tradisi peradaban lain yang membuat akidah umat Islam terganggu dan terkotori. Termasuk oleh penyimpangan berpikir sebagian oknum yang terlanjur jadi ulama. Maka lahirlah konsepsi ilmu akidah. Tujuannya menghadapi kerancuan akidah umat Islam terhadap pemikiran sesat lain, seperti Syiah Rafidhan yang terjadi di bahkan sejak khalifah Ali masih hidup, juga sempalan paham seperti Qadariyah, Jabariyah, dll. Akidah umat dikembalikan ke tengahnya, yang akhirnya sering diistilahkan dengan ahlus sunnah wal jamaah (aswaja).

Lalu umat Islam juga menghadapi problem-problem sosial kemasyarakatan. Karena banyaknya hal baru di wilayah dunia Islam yang tidak hanya Arab maka banyak pertanyaan baru yang di zaman Rasulullah dan sahabat belum ada. Maka generasi ulama sejak era tabi’ut tabi’in dan sesudahnya merumuskan kaidah-kaidah ilmu fikih. Lagi-lagi kita mendapati banyak madzhab, dan ada empat madzhab termasyur yang hingga hari ini dijadikan rujukan. Kenapa beda-beda? KIudune kowe iso mikir dengan luasan wilayah Islam yang terbentang dari Spanyol-Maroko hingga India. Dan para ulama fikih tidak hanya orang Arab Quraisy. Di masa ini kita mengenal Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal.

Lalu di masa berikutnya semakin banyaknya penguasa yang zalim, dan sedikit penguasa yang shalih, dominasi politik yang cenderung disalahgunakan membuat banyak berita simpang siur dan diaku-akukan kepada Rasulullah. Maka lahirlah para generasi ahlul hadits yang berpetualang ke berbagai penjuru dunia Islam untuk mengkodifikasi berita yang benar dari Rasulullah dan menandai kabar-kabar palsu yang diaku-akukan dari Rasulullah. Kebayangkan perjuangan mereka setelah jaraknya lebih dari 3 abad sejak wafatnya Rasulullah. Menanyai orang perorang dan menguji kejujurannya apakah pesan yang ia bawa benar-benar pesan yang berasal dari Rasulullah. Di sinilah kita melihat para pakar hadits, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Baihaqi dkk. Sebagian mereka bukan bangsa Arab lho.

Penguasa Islam semakin menjadi raja di raja. Dan tabiat kekuasaan akan selalu membuatnya lupa daratan. Umat Islam larut dalam cinta dunia dan enggan berjihad lagi. Hidup dalam pesta dan kemewahan. Akhirnya Allah kirimkan pasukan salib dari Eropa untuk memberi pelajaran kepada umat Islam agar sadar. Dari sinilah lahirlah ilmu-ilmu tasawuf yang mengawali kebangkitan kedua umat Islam. Sosok seperti al-Ghazaly, Abdul Qadir Jailany, Ibnu Athailah menjadi sosok penting dalam perbaikan umat ini. Maka lahirlah pasukan besar dan pemimpin agung seperti Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi.

Dunia Islam kembali bangkit lagi tetapi tidak seindah masanya dahulu lagi. Kekuasaan dan intrik politik mendominasi. Ulama-ulama terus berjuang di garis depan menjadi pembela umat atas penguasa yang zalim. Setelah pasukan salib Eropa berhasil ditaklukkan, kini serangan datang dari Mongol Tartar, kekhalifahan pun hancur. Kepemimpinan umat sepenuhnya dalam kendali ulama. Maka tokoh seperti Ibnu Taimiyah hadir. Pahami konteksnya beliau hadir dalam kondisi darurat seperti itu. Tapi di belahan lain masih ada generasi harapan, Turki Utsmani yang selalu menghadang pasukan salib Eropa dan merebut Konstantinople.

Jika kita sedikit waras, maka seharusnya permasalahan akidah, fikih, dan politik sudah ada acuan prinsip-prinsipnya. Begitupun metode mengkomunikasikan perbedaan yang terjadi. Penemuan-penemuan para ilmuwan muslim yang masih berhasil diselamatkan seharusnya dikembangkan. Tetapi memang takdir Allah bahwa penaklukan atas Konstantinople adalah titik balik kemunduran umat Islam. Sebaliknya, Eropa yang telah berinteraksi lama dengan dunia Islam memetik pencerahan dan bangkit menjadi kekuatan besar baru di Eropa. Kita masih ribut dengan perdebatan tak berujung. Para ulama-ulama zuhud terus berkurang.

Dan jika kita melihat garis sejarah Nusantara, sesungguhnya keilmuwan Islam bergerak dari Yaman ke kepulauan ini. Di saat timur tengah terus gaduh dalam perpecahan dan perdebatan, di negeri inilah Islam menyemai kembali bentuknya. Adakah yang membantah bahwa masa-masa indah ini pernah kita rasakan. Bahkan kita pernah mengalami Islam menyatu menjadi identitas kebudayaan masyarakat sebelum akhirnya bangsa-bangsa Eropa datang dengan senjatanya dan menghancurkan segalanya.

Maka, cukuplah gambaran singkat ini menunjukkan bahwa metode belajar umat Islam tidak berangkat dari spesialisasi ilmu. Tapi dari satu pemahaman tunggal akan tauhid. Tauhid inilah yang akan mengantarkan manusia berpikir dan menyelesaikan problem kehidupan yang dilalui setiap zaman. Ilmu lahir dari permasalahan yang dipelajari, bukan dari buku-buku yang dihafal seperti hari ini.

Sekarang dunia Islam sudah terkurung dalam dua problem serius. Politik yang terpenjara dan ekonomi yang terjerat riba. Pemberontakan yang dimulai dari Nejd mengakibatkan porak-porandanya tatanan kekhalifahan Islam terakhir dan akhirnya semua daerah-daerah Islam pecah baik karena perang atau karena terputusnya hubungan akibat sabotase kaum kolonialis. Kini kita tinggal melihat dunia Islam di timur tengah yang perang terus-terusan. Juga miliaran umat Islam yang terpaksa hidup dalam sistem ekonomi ribawi.

Puncaknya adalah kita tidak memiliki kedaulatan atas pemikiran dan karya. Umat Islam cenderung minder dengan apa pun. Umat Islam konsumtif. Umat Islam hari ini semakin kaya, tetapi menjadi pasar menjanjikan untuk bisnis apa pun, terutama Indonesia. Inilah fenomena yang dikatakan Rasulullah, jumlahnya banyak tapi tidak bermanfaat apa-apa karena yang memang cuma ke sana ke mari seperti buih di lautan.

Perilaku kebodohan massal umat Islam dewasa ini semakin ditunjukkan dengan umat yang enggan belajar dan memilih menyandarkan hidup dari fatwa ulama seperti ambil barang gratis yang dibagikan di depan toko. Begitupun yang diaku-aku ulama, mereka semakin jumawa dan mengindetifikasi dirinya dengan sebutan-sebutan khas ulama padahal ilmunya entah seberapa helai rambutnya Imam Syafii. Jangan tanya lagi fenomena penguasanya dan perangkat kepemimpinan di negeri-negeri muslim. Maka bagaimana kita akan memerangi Syiah yang sudah ada sejak zaman khalifah setelah direkayasa oleh Abdullah bin Saba’ si Yahudi munafik, atau Ahmadiyah yang direkayasa oleh kolonial Inggris, atau Kejawen yang didesain oleh para pemikir teologis asal Belanda di Indonesia, wong kita saja malas membaca, malas berpikir, dan inginnya praktis-praktis melulu.

Sudahlah, impian besar itu jelas. Bahkan kemenangan Islam di akhir zaman itu juga jelas, sebagai janji Allah. Masalahnya sekarang kita ini sudah ngapain. Jangan-jangan ya cuma ikut sana ikut sini tanpa visi hidup yang jelas. Malah ribut dengan istilah Islam Nusantara. Lha kalo fenomena ke-Islam-an masyarakat Nusantara ini memang yang paling pas untuk dunia dan menjadi pewaris ke-Islam-an masa lalu, terus kamu mau apa? Kenapa juga harus selalu inferior dengan mengatakan bahwa Islam-nya orang-orang Arab itu pasti lebih bagus dari ulama-ulama sini. Begitu pula kaum anti-Arab, itu mah goblok. Gimana kamu ngaku anti-Arab padahal sumber ajaran Islam primer itu pakai bahasa terbaik dari bangsa Arab.

Sudahlah, kita ini terlalu banyak tingkah. Sudahlah, saya mengakhiri opini ini dengan tanpa kesimpulan. Kecuali hanya bilang, kita harus belajar lagi.

Surakarta, 21 Juni 2015

2 Comments

  1. raihanil jannah

    nggak sengaja cari di google tentang artikel islam malah ketemu artikel yang bagus seperti ini. tulisannya sangat menginspirasi sekali mas. seandainya semua remaja remaja islam saat ini bisa melihat artikel ini.
    di tunggu tulisan-tulisan yang menginspirasi berikutnya. kalau boleh saya izin share ya. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.