Sebelum lepas landas menjelang akhir-akhir masa studi sejak 3 tahun silam, aku sangat bersyukur, ibaratnya ketemu dengan orang-orang yang level sanadnya pada kejadian itu A1, paling jauh A3. Sehingga banyak peristiwa sejarah yang bisa terkonfirmasi dan nalarnya ketemu.

Semakin ke sini aku menikmati perjalananku yang tidak ikut-ikutan ekstrim, tapi makin tertarik untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan dari penipuan yang terus diproduksi tanpa henti ini. Memang aku masih sering tertipu juga, tapi setidaknya aku sudah tidak memadatkan pengetahuan-pengetahuan yang memang seharusnya tidak dipadatkan. Karena ada pengetahuan yang harus terus diselidiki agar semakin terkonfirmasi keasliannya.

Logika dasarnya sederhana, kurun terbaik itu adalah zaman Rasulullah dan sahabat. Diangkatnya ilmu dengan diwafatkannya para ulama dari masa ke masa adalah keniscayaan. Jadi hari ini, pemilik ilmu-ilmu sejati itu kian sedikit. Tapi kok kesan yang timbul justru seolah-olah banyak tumbuh berkembang pesat. Meskipun dengan mudah dikonfirmasi bahwa di balik pertumbuhan Islam yang terlihat bagus ini, kapitalisme dan materialisme bermain di belakangnya. Tapi tetap saja ada hal yang lebih dalam lagi yang mendasari kedua ideologi berbahaya itu. Semua itu dikemas melalui dua konsep dasar, logika ekonomi dan logika informasi. Kedua hal itu hampir menuju titik sempurna sebagai kebenaran yang diyakini oleh mayoritas manusia yang hidup di muka bumi. Makanya percuma melawan dengan opini, modar wae kowe bakal ditawur wong sing wis “beriman” dengan apa yang sudah mereka sebut sebagai “kebenaran modern” sing jumlahe akeh banget kayak saiki.

Dalam kondisi itulah, sebaik apa pun kandungan al Quran dan pengajaran-pengajarannya Rasulullah, ya akan berakhir di tangan para penggiat kapitalisme dan materialisme. Untuk ukuran orang-orang biasa, jelas tidak mungkin akan sanggup menghadapi gempuran mengerikan ini, kecuali menyelamatkan diri atau dimenangkan oleh Allah. Bahkan tokoh besar yang sekarang kembali muncul di permukaan (akibat orang mulai merasa tertipu dan mereka mulai sadar lalu berusaha menuju pada kesejatian) sudah memasrahkan semua urusan itu pada Allah. Sehingga konteks menggigit akar-akar dan berlari ke gunung seperti yang diperintahkan Rasulullah tentang situasi akhir zaman dapat dipahami tidak dalam arti fisik saja, tetapi sebagai strategi yang harus dikonsep dengan matang agar kita tidak ikut tergilas oleh arus utama kehidupan yang penuh dengan kesemuan (peseudo) itu.

Usia 15-40 tahun adalah saat-saat genting dalam proses belajar. Karena jika salah membangun konsep-konsep dan definisi dalam laku kehidupan, fatal akibatnya. Karena tindakan lahir yang bisa diamati itu hanya merepresentasikan sebagian kecil dari metodologi laku hidup seseorang, makanya kita diminta banyak berbaik sangka pada orang, atau setidaknya menyiapkan kemaafan atas kemungkinan yang akan terjadi akibat interaksi dengan setiap orang. Ya karena memang aslinya kita tidak bakal ngerti orang lain, sekalipun sudah jadi teman dekatnya. Apalagi di era seperti saat ini, ketika kejujuran bukan lagi menjadi hal yang populer dan menarik dilakukan.

Akhirnya, pencarian ini akan terus berjalan sampai Allah menghentikannya karena Dia memanggil untuk kembali.

Juwiring, 19 Februari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.