Setiap kali umat Islam sedang membangun gerakannya yang komprehensif, dihancurkan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan 2 cara. Pertama, bergabungnya preman syariah yang nanti menggiring gerakan itu ke arah ekstrimisme sehingga mencoreng wajah Islam. Atau kedua, dikurungnya gerakan dengan iming-iming dunia kepada para pemimpin gerakan sehingga pendapatnya mulai nyeleneh dan membuat polemik antar sesama umat Islam. Kedua jebakan itu sangat efektif membuat umat Islam saling membunuh satu sama lain dan saling ribut dalam suasana fanatisme yang parah.

Problem DKI Jakarta yang sedang ramai dibicarakan adalah salah satu produk kerusakan internal umat Islam sendiri. Sangat tidak fair jika melemparkan semua kerusakan Jakarta pada Om Koha yang baru berkuasa kemarin sore. Kita juga tetap harus melihat sejarah ke belakang bagaimana umat Islam di ibukota tersebut sudah masuk ke dalam dua jebakan di atas sehingga mudah diadu domba satu sama lain. Jumlah umat Islam secara KTP di Jakarta itu masih sekitar 85%, artinya secara statistik jika ada satu tokoh umat Islam yang sebanding dengan Om Koha, pasti bisa menang. Tapi siapa? Wong berkonsolidasi saja masih mbulet.

Perlu diingat, hampir seabad silam, Palestina itu masih ditinggali bangsa Arab, mayoritas muslim. Tapi mengapa Zionis bisa masuk, karena sebagian mereka (bangsa Arab) lebih mementingkan uang dari pada keselamatan bersama. Mereka menjual tanah-tanah kepada para pengusaha sehingga banyak tanah yang dikuasai bankir Yahudi. Hingga ketika pasukan Sekutu datang ke Yerusalem, terselip belasan ribu milisi Yahudi yang memulai teror. Beberapa dekade kemudian, lahirlah negara Israel. Bagaimana dengan Jakarta nanti? Ya bisa bernasib sama jika tidak ada kesadaran bersama, cuma mungkin tidak seperti Israel karena yang berkuasa di sini pengusaha rakus, baik pribumi, asing, dan aseng, dan masyarakatnya relatif ngalahan.

Sekarang mayoritas dunia Islam berkonflik sendiri soal kekuasaan. Bahkan Malaysia yang biasanya adem ayem, sedang terjadi eskalasi politik yang menakutkan. Di Singapura, umat Islam dimanjakan agar tidak memiliki gerakan politik yang mengancam kantor cabangnya USA tersebut. Bagaimana dengan Indonesia? Ya narasi permusuhan lebih banyak dibangun dari pada kerukunan. Sesama umat Islam masih berkonflik, antar umat beragama juga berkonflik. Pemikiran umat Islam tidak lagi dikendalikan oleh budaya komunal umat Islam yang berpusat di masjid, tapi distir oleh TV, game, dll, karena kebanyakan para muballigh cuma menceramahi umat, tidak menemani, mendengar keluhan, dan memperjuangkan nasib rakyat. Jangan tanya deh kalau soal politisinya, ada satu dua saja yang all out, sujud syukur lah kita.

TulisanĀ ini terinspirasi dari mudzakarah bersama Dr. Adian Hussaini, dengan diperkaya oleh pikiran dan sudut pandang penulis.

Juwiring, 21 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.