Agama itu akan terasa manfaatnya bagi kehidupan jika dihayati dan diaplikasikan, tidak sekedar dipeluk atau dikeloni.

Khususnya umat Islam, jika benar-benar menghayati Islam secara sungguh-sungguh, maka hal yang akan dirasakan pertama-tama adalah pancaran kebahagiaan tiada tara.

Jika umat Islam itu setiap hari tadabbur, niscaya hidupnya akan selalu bahagia. Contohnya mentadabburi fisiologi tubuhnya setiap hari, pasti tidak akan berhenti rasa syukurnya melihat semua elemen dalam tubuhnya bekerja otomatis.

Bayangkan seandainya Allah menciptakan tubuh kita secara manual sehingga kita harus berkonsentrasi mengendalikan jantung, kapan kencing, kapan berak, memproses makanan, dll, betapa menderitanya kita. Namun Allah maha pengasih, semua disetting otomatis, tinggal kita menjaga agar tidak rusak.

Belum lagi hamparan bumi dan segala masalah yang perlu kita pecahkan. Dengan kesadaran semacam itu, maka kita tidak akan lagi melihat kehidupan ini secara sempit. Kalau melihat realita pemerintahan yang mirip Kompeni, kita menjadi fokus bagaimana mengkreatifi sistem pertahanan diri, keluarga dan komunitas.

Kesadaran sebagai manusia yang hanya wajib tunduk kepada aturan-aturan Allah akan membuat kita tidak menganggap negara penting-penting amat. Dengan keyakinan yang bulat kepada Allah, maka seharusnya umat Islam tidak lagi berkeyakinan sebagai kumpulan semut yang dipenjara oleh ruang bernama Indonesia, tetapi mereka menjadi raksasa yang sedang mengasuh bayi bernama Indonesia.

Lho tapi kan kenyataannya kita hidup menderita sekarang? Benarkah? Pernahkan kita pergi ke Palestina, ke Afrika, ke Yaman, ke Suriah yang sedang mengalami konflik? Sepertinya kita kurang bersyukur dan masih kurang bergembira dengan karunia bernama tanah air Indonesia. Kita masih mau-maunya diperalat para politisi dengan narasi-narasi palsu mereka tentang janji kemakmuran yang sebenarnya hanya untuk mereka dan golongan mereka.

Kita bangsa Indonesia, khususnya umat Islam bisa berdaulat dengan kembali mendefinisikan masjid dengan benar. Masjid sebagai pusat peradaban, bukan lagi markas organisasi anu atau hanya boleh diisi kegiatan versi anu. Kita bisa mendefinisikan masyarakat dengan benar, bukan sekedar manusia-manusia yang mendiami wilayah. Kita bisa mendefinisikan rakyat dengan benar, bukan sekedar antri di TPS tiap lima tahun sekali tanpa strategi.

Kita bisa tetap hidup gembira dengan realita pemerintahan seperti sekarang jika kita benar-benar meniru Rasulullah dan khalifah empat. Hidup sewajarnya, memproduksi semampunya, dan menciptakan gaya hidup sendiri. Tidak perlu terlalu kaku melawan pemerintah selama kebijakan mereka masih bisa diakali dengan cara-cara cerdas. Baru jika pemerintah merampas tanah-tanah dan rumah kita secara paksa, mari kita lawan sampai mati atau mereka kalah.

Hari-hari kita terlampau sia-sia jika tiap hari menengok kabar Jakarta, tentang Jokowi dan segala yang mbulet di sana. Kita punya waktu banyak untuk gembira dan terus bergembira, bersyukur atas karunia Allah berupa tanah air Indonesia.

Surakarta, 29 Desember 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.