Medsos itu lebih lentur dibandingkan hal-hal yang fisik di tengah masyarakat.

Kalau di tengah masyarakat, misalnya kita teriak-teriak, menyalahgunakan pengeras suara masjid, dll pasti sangat mengganggu dan meresahkan masyarakat sekitar. Jika mereka melaporkan kita ke polisi, ya wajar. Itu mending dibandingkan mereka datang dan menghajar kita.

Lha kalau di medsos, mekanismenya sebenarnya bisa ditangani lebih efektif. Kalau kita melihat ada orang buat status yang isinya tuduhan keji, pencemaran nama baik, dan provokasi buruk kan sebenarnya tinggal dilaporkan ke penyedia layanan dan kita blok. Tanpa harus lapor-laporan secara konyol ke kepolisian, masalah itu bisa langsung selesai.

Tapi mengapa sekarang kita sering mengalami viral kepekokan. Katakanlah seseorang benci terhadap tokoh atau orang tertentu. Mendadak orang-orang yang membaca ujaran kebenciannya ikut-ikutan benci. Ini sumber masalahnya terletak pada manusia-manusianya yang menggunakan medsos. Ini tanda bahwa pengguna medsos tersebut tidak memiliki imunitas dalam menghadapi paparan informasi.

UU ITE seharusnya digunakan untuk menjerat para pelaku kejahatan yang menyalahgunakan internet (termasuk di dalamnya medsos) untuk melakukan tindakan-tindakan kriminal dan merugikan secara materil. Kalau soal pisuhan, tuduhan, hingga pencemaran nama baik, seharusnya si pelaku langsung dibanned oleh penyedia layanan, karena laporan orang-orang yang merasa tidak nyaman dan dia sendiri terkucil dalam pergaulan dunia maya.

Tapi itu lagi-lagi cuma omong kosong saya. Sebab manusia-manusia pengguna medsos sekarang sedang senang-senangnya berkubu, membenci sesuatu secara massal, dan grudak gruduk sana sini tanpa sebuah argumentasi yang wajar sebagai manusia. Apalagi menjelang 2019 nanti. Kalau tidak tahan bisingnya medsos, rehat saja dahulu.

Surakarta, 6 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.