Perjumpaan saya dengan salah satu guru yang memberikan nasihat “bahwa setiap orang itu berproses” membuat saya bisa menahan diri untuk tidak nggathuk-nggathukke hal-hal yang tidak semestinya digathukke. Misalnya membuat standar bahwa seorang anak/menantu kiai itu pasti sholeh, atau istri dari seorang durjana itu pasti durjana.

Kenyataannya di kisah-kisah terdahulu, sekelas istri nabi saja ada yang durhaka, sekelas manusia sejahat Firaun saja punya istri yang sangat beradab. Sekelas Abdullah bin Ubay bin Salul yang munafiqnya luar biasa, ada putranya yang sholeh dan beriman dengan keimanan yang teguh. Artinya akan sangat tidak bijak jika kita jadi melebar ngurusi mertua yang sejauh ini kita kenal beliau memiliki banyak kebaikan (tentu saja sebagai manusia punya kekurangan, ning nek aku lho ya, kekurangan beliau itu tidak sebanding dengan kebaikan-kebaikan yang sudah beliau tebar, tinimbang dhapuranku sing ra mutu ngene) hanya gara-gara menantunya yang pekoknya nggak ketulungan.

Tugas orang tua itu mengarahkan anak-anaknya agar dapat mengakses pancaran cahaya Allah. Dalam sebuah majelis tentang parenting yang pernah saya ikuti dengan guru yang lain lagi, aku dapati dan aku yakini sekarang bahwa tidak seorang pun bisa mendidik manusia lainnya. Hakikatnya, saat kita mendidik orang, sebenarnya kita hanya memfasilitasi mereka mengakses cahaya ilmu dari Allah.

Makanya dalam menyelenggarakan pendidikan kita harus memperhatikan benar-benar sang murid tidak hanya sekedar observasi fisik, tetapi juga dengan kedalaman perasaan tentang bagaimana ia menggali nilai-nilai kehidupannya sendiri. Pendidikan yang tidak meletakkan porsi berpikir semestinya berimbang dengan doktrin yang diberikan akan cenderung membuat orang terkekang dan pada titik lepas tertentu ia akan menjadi sangat liar dan berbahaya. Atau terkadang justru memenjara hingga membuat seseorang itu menjadi sangat jumud dan enggan mendengar lebih banyak lagi alias keras kepala.

Siapa yang mengira, seorang yang dikatakan sangat bodoh pada awalnya justru menjadi seorang muhaddits dan ulama besar dengan kitabnya yang sangat populer hingga hari ini sebagai rujukan kitab fikih, Bulughul Maram min Adilatil Ahkam, dialah Ibnu Hajar al Asqalaniy. Setiap orang memiliki rahasia kehidupan yang hanya dia, Allah, dan mungkin beberapa gelintir manusia yang diperkenankan-Nya yang bisa melihat rahasia itu.

Maka pada dasarnya, jika kita tidak sepakat dengan seseorang seharusnya itu karena memang diri kita sendiri telah berpikir. Bukan jadi cheerleader yang cuma ikut-ikutan kesana kemari. Disuruh ngeroyok sana, ikut ngeroyok, disuruh muja-muja sini ikut muja. Tapi apa boleh buat, zaman terus bergulir dengan fasilitas keroyokan yang makin canggih. Jika dahulu keroyokan bermodal fisik dan pentungan, sekarang ada fasilitas untuk para pengecut agar keroyokan dengan cara menyembunyikan identitas diri dan menebar isu-isu murahan.

Pemikiran LGBT lahir dari peradaban yang tidak mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya dan kemanusiaan secara normal. Dan ia pun akan diadopsi jiwa-jiwa terluka yang memiliki frekuensi sama, sekalipun lahirnya terlihat beragama dan bisa ngomong dakik-dakik soal al Quran. Ia adalah puncak gunung es dari akumulasi kesalahan berpikir dan bergaul yang selama ini tidak disentuh oleh nilai-nilai spiritual. Menyiksa fisik, mengintimidasi para pelaku LGBT, hanya memberi rasa tenang sesaat. Tetapi membiarkan para burung LGBT berkicau lalu ditanggapi dengan tanggapan yang terlalu berlebihan justru menguntungkan mereka.

Bagi yang paham aturan hukum, mbok sudah itu dilaporkan saja ke kepolisian, ada banyak pasal yang bisa digunakan selagi para penganut LGBT belum menyuap para anggota dewan untuk membuat undang-undang pelegalan LGBT. Bagi yang awam macam saya, mari diam saja. Unfollow akun-akun yang kayak gitu. Jangan dibaca dan diakses web-web yang kayak gitu. Laporkan ke admin-admin web jejaring sosial jika mendapati halaman-halaman semacam itu (mbok menawa dengan laporan pengguna yang banyak, atas prinsip suara terbanyak akun-akun anu itu ditutup).

Mari kita lakukan proses-proses itu dengan sabar dan telaten. Semoga rasa marah yang membuncah hari ini dan mungkin hari-hari ke depan dapat kita konversi pada bentuk-bentuk tindakan yang lebih bernilai. Karena jika tidak berhasil, sebenarnya kita sedang mencelakakan diri sendiri atas nama kepedulian. Semoga Allah senantiasa menuntun langkah-langkah kita.

Juwiring, 11 Februari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.