Saya dididik oleh guru-guru saya untuk tidak memutlak-mutlakkan hal-hal kontemporer, karena pasti ada sisi benarnya, dan ada sisi salahnya. Maka saya tidak akan mendukung mutlak, maupun menolak mutlak.

Misalnya bicara soal MUI, itu adalah lembaga yang didirikan pemerintah Orde Baru, tahulah bagaimana watak lembaga pemerintah (meski sekarang udah pisah dari kekuasaan pemerintah). Makanya Buya Hamka memilih mundur dari kursi ketua MUI ketimbang dipaksa pemerintah membuat fatwa soal ucapan Natal. Problem mendasarnya karena sebagian umat saat itu (hingga kini) meletakkan MUI sebagai lembaga yang pasti benar dalam soal halal-haram. Jika beliau sampai meneken tanda tangan, maka akan terjadi kekacauan besar di tengah umat Islam.

Padahal dalam sejarah keilmuan Islam, yang namanya fatwa itu keputusan individual para alim di bidangnya masing-masing. Mereka harus membuat fatwa agar tidak berdosa karena menyembunyikan ilmu yang Allah karuniakan kepada mereka. Dalam ilmu terkandung kebenaran kan, maka harus dibuka. Yang keputusannya paling top, biasanya paling banyak diikuti umat Islam. Apakah keberadaan MUI tidak penting? Ya penting, terutama dalam membangun komunikasi antar elemen umat Islam, agar rukun dan tidak gelut. Tapi apakah MUI selama ini fokus pada komunikasi dan sharing keilmuan seperti itu? Golekana jawabane dewe.

Kemudian pada sosok personal. Ketika saya masih jumud, saya termasuk orang yang agak sensi ketika berbicara tentang KH. Abdurrahman Wahid. Tapi setelah banyak belajar mengenal beliau, saya takzim kepada gagasan beliau yang melampaui masanya. Saya tidak selalu membenarkan ide beliau, tetapi saya mengakui bahwa beliau termasuk salah satu tokoh yang berjasa besar dalam menyelamatkan NKRI ini dari perpecahan pasca tumbangnya orde baru. Beliau termasuk salah satu tokoh besar yang bisa membangun komunikasi indah dengan elemen-elemen anti zionis di dunia.

Demikian pula yang lagi anget-angetnya sekarang. Misalnya Fahri Hamzah yang sekarang kerap dihujat (salah satu sebabnya gara-gara beliau orang PKS). Saat Menpora membekukan PSSI yang berujung pada sanksi FIFA, beliau membuat kultwit yang menjelaskan dengan gamblang tentang fungsi pemerintah dan federasi. Pemerintah seharusnya fokus pada penyediaan sarpras dan akses penjaringan bibit unggul atlet. Urusan penyelenggaraan kegiatan olah raga biar federasi. Jika banyak bandit di federasi, ya dilaporkan secara pidana personel-personelnya. Jangan malah mengintervensi federasi secara otoriter. Menurut saya argumentasi ini cerdas dan jelas. Dan itu memang yang seharusnya dikeluarkan seorang anggota legislatif. Tugas anggota dewan ki ya memang mengkritik dan mengevaluasi pemerintah. Cen kudu banyak omong. Nek anggota dewan muk mingkem karo turu, mundur saja. Tapi tetap saja beliau dibully habis-habisan (lagi-lagi salah satu faktornya gara-gara beliau orang PKS, dan kebanyakan orang juga terlanjur punya stigma parah soal PKS, menganggap setiap orang di PKS sama dengan beberapa oknumnya yang hobi anu-anu itu).

Demikian pula sikap kita terhadap Amerika, Yahudi, Kristen dll. Amerika itu ada unsur pemerintah dan rakyat. Rakyatnya juga tersegmen lagi. Pemerintahnya juga tersegmen lagi. Yahudi juga sama, ada yang pro zionis, ada yang anti zionis. Dan semua itu tidak bisa dipandang gebyah uyah.

Tapi buah dari cara belajar yang praktis-praktis kayak sekarang membuat otak manusia itu biner. Nek ga mau A, berarti anti A. Dan dari kehancuran ini Dajjal akan datang. Karena orang yang otaknya biner seperti ini, nasihat apa pun tak akan lagi berguna baginya. Jika saat itu telah tiba, cara terbaik adalah kabur sejauh-jauhnya.

Juwiring, 27 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.