Karpet bergambar masjid dipakai alas menari dianggap penistaan agama. Saya sepakat bahwa panitianya memang anu sekali, po ga iso to cari alas yang lebih oke dan pas sama konteksnya. Tapi argumen penistaan agamanya di mana? Sejak kapan karpet itu beragama dan sejak kapan bahwa karpet yang digunakan di masjid nilai kesuciannya lebih tinggi dari pada karpet yang dipakai dirumah?

Jangan-jangan nanti kalau gereja desainnya mirip masjid karena pakai kubah dianggap penistaan agama. Padahal desain masjid berkubah itu munculnya belakangan setelah kekuasaan Islam berhasil menembus negeri Romawi. Kubah masjid itu mengadopsi arsitektur gereja Kristen Ortodoks. Jangan-jangan nanti kalau Vihara ada menaranya terus dianggap penistaan agama. Padahal menara mengadopsi menara kuil-kuil Majusi di Persia yang ketika itu digunakan untuk tempat api.

Apakah memang umat Islam sekarang mulai memasuki zaman jahiliyahnya kembali. Memberhalakan materi akibat kebutaan sejarahnya yang akut. Menganggap perkara Dien padahal bukan, dan mengabaikan apa yang sebenarnya menjadi bagian dari hal pokok tentang Dien al-Islam ini. Membesar-besarkan soal remeh-remeh semacam itu, tetapi membiarkan diri melakukan kekufuran massal di segala bidang mulai dari ekonomi, teknologi, hingga sosial.

Bukankah kerusakan semacam ini adalah pertanda bahwa Ghazwul Fikr telah berhasil dijalankan di tengah umat Islam. Umat yang katanya mayoritas di negeri ini dikebiri pikirannya sehingga setiap hari muk ribut pada hal-hal sing ga jelas dan terus menerus bertikai satu sama lain. Yang sini sibuk ngurusi Timur Tengah, jadi kubunya A atau B, padahal mereka gelut karena jadi pionnya AS cs dan Rusia cs. Kene melu panas ra karuan.

Padahal kalau mau bicara dari mana ekonomi Islam yang benar bisa di mulai? Ya dari negeri ini. Negara lain sudah terjajah secara ekonomi karena mereka tidak memiliki SDA yang memadai. Di negeri ini, umat Islam bisa berkesempatan membebaskan diri dari jerat riba seandainya mau bersyukur, yakni hidup dari hasil sendiri dan mengembangkan energi terbarukan. Semua tersedia melimpah ra karuan. Meski dikeruk oleh ratusan perusahaan asing, stok SDA kita benar-benar unlimited.

Kita sebenarnya bisa mulai memutus segala jaring keuangan ribawi yang dibangun oleh sistem keuangan zionis yang sudah didesain mencengkeram dunia lewat Perang Dunia I dan II. Kuncinya kita belajar hidup prihatin dan sederhana. Meminimalisir konsumsi dari barang-barang yang tidak jelas kemanfaatannya. Berusaha mencukupi kebutuhan makan dari sistem lokal yang dibangun. Membuat mekanisme perputaran uang yang mandiri. Jika kita bisa memutus jerat riba, insya Allah kutukan kegelapan ini bisa kita enyahkan dari diri kita dan keluarga kita. Mosok disihir karo kertas seprana seprene yo ga nyadar sih.

Mumpung internet masih ada, mumpung masih bisa berkomunikasi secara luas, setidaknya ini hanya upaya kecil seperti yang diperintahkan Rasulullah, “jika melihat kemunkaran, ubahlah dengan tanganmu, jika tak mampu ubahlah dengan lisanmu, jika tak mampu ubahlah dengan hatimu, demikian selemah-lemahnya iman”. Kita levelnya baru menentang ini dengan hati, karena setidaknya kita mengetahui letak kekacauan kita meski jane yo bingung, modar ameh ngapa bar iki. Semoga keterjagaan ini membuat Allah terharu dan membuka jalan terang di kemudian hari nanti.

Yen gelem tirakat, insyaAllah bakal diparingi dalan kang padhang. Yen tetep kemaruk, bakale kejeglong tembe mburine. Nas’alullaha min dzalik, fayansurullahu lanaa.

Juwiring, 8 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.