Lagi seneng ngulik istilah “liberal” dan “moderat”.

Belakangan ini orang-orang yang mendaku “liberal” justru menampakkan sikap “konservatif”. Demikian pula orang-orang yang mendaku “moderat” justru menampakkan sikap “ekstrem”.

Mengapa bisa demikian? Menurut saya karena ada ketidakjujuran dalam pikiran dan sikap mereka sendiri. Bisa dibilang, ada inkonsistensi dadakan. Menjadi liberal dan moderat itu berat Kawan.

Setahu saya, sikap liberal itu salah satu outputnya merelatifkan kebenaran. Berarti dia sangat welcome melihat segala sesuatu di luar dirinya sebagai kebenaran. Pokoknya ya apa-apa benar. Kan bebas. Tetapi mengapa orang-orang liberal mendadak jadi sensi ketika berhadapan dengan orang Islam, Kristen, dll yang taat? Bukankah seharusnya bagi seorang liberal, semua itu sama saja, BENAR. Kan katanya relatif.

Kemudian sikap moderat itu salah satu outputnya kan tidak condong ke mana pun. Berarti dia sanggup selalu berada di tengah ketika melihat sebuah keesktriman sebesar apa pun. Wong moderat kok, ya nggak berkutub dong. Tapi mengapa kita jumpai orang-orang moderat menjadi gerah ketika melihat aksi-aksi yang menurut mereka dilakukan oleh orang-orang ekstrem. Bukankah seharusnya ya biasa-biasa saja. Kan kalau yang melakukan aksi itu orang ekstrem versi A, seharusnya seorang moderat menemukan titik tengahnya dengan melihat bahwa ada pihak lain yang melakukan aksi ekstrem versi -A.

Jadi, sepertinya ada ketidakjujuran sikap dalam hal ini. Atau memang aslinya klaim liberal dan moderatnya memang setengah hati. Atau jangan-jangan menjadi liberal dan moderat itu memang berat, tapi sok-sokan mengaku liberal dan moderat. Mbok mending bilang saja, “Saya itu liberal pada hal-hal yang suka tapi bisa menjadi konservatif kalau ketemu pada hal-hal yang saya benci. Saya itu moderat pada hal-hal yang saya suka tapi bisa menjadi ekstrem kalau ketemu pada hal-hal yang saya benci.”

Jadi akan menjadi jelas, meskipun tampak liberal luar biasa, karena benci Islam, maka akan menjadi konservatif ketika berhadapan dengan hal-hal yang mengandung anasir Islam. Demikian pula meskipun tampak moderat, karena benci Islam, maka akan menjadi ekstrem ketika berhadapan dengan hal-hal yang mengandung anasir Islam. Jadi, kalau memang berat menjadi seorang liberal dan moderat, mbok nggak usah ngeklaim gitu lah. Nanti malah jadi lucu.

Surakarta, 4 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.