Yang bikin sedikit “nganu” saat mudik itu adalah ketika mengajak jalan-jalan si bungsu, Zahra. Sebagai seorang kakak yang tetap konservatif dan ndeso, maka aku akan selalu bertanya apa pun yang kami lewati kepadanya.

“Nduk, itu pohon apa namanya?” Dia menggeleng
“Kalo yang daun ini?” Dia masih menggeleng
“Lha kalo hewan itu?” Dia menggeleng
Dan begitu kulakukan terus hingga hanya beberapa hal saja yang berhasil dia ketahui untuk ukuran anak seusianya.

Lho piye toh iki. Kok bocah sekolahan saiki ga mudeng banyak hal yang ada di sekitarnya. Sekolahan ngajari apa janjane. Saya menguji coba ke anak-anak seusianya, hasilnya kira-kira sama. Dan anak-anak cenderung tidak mau bertanya itu apa? Kok sekarang jadi begitu.

Jadi saya berimajinasi jangan-jangan anak modern saat ini tahu kata kambing dahulu, hingga ketika dia mulai belajar biologi SMA baru ngerti “ooo itu kambing”. Lalu setelah kuliah ambil jurusan peternakan, pas PKL pegang kambing “ooo kambing itu bregus, berbulu, dan teleke kayak kacang telur, tapi pahit”.

Apakah buku dan waktu bersekolah akan mengalahkan anak-anak untuk mengenal aslinya lingkungan yang ia pijaki. Apakah sekolah justru membuat anak awang-awangen untuk mendefinisikan kehidupannya yang nyata ada di sekitarnya. Kalau sudah demikian, bagaimana anak akan mengenal Allah-nya jika ia hanya melihat tulisan (الله) dan dijejelke secara doktriner tanpa sebuah proses alamiah dalam jiwa mereka untuk mengenal Allah. Alangkah mengerikannya.

Bahasa itu lahir dari interaksi antar manusia dan lingkungannya, dan semua itu melalui proses yang panjang. Maka cara mengajari bahasa yang mendasar ya dengan kata-kata dari lisan dan pengucapan yang fasih serta interaksi langsung dengan hal-hal yang diajarkan.

Hanya saja, tumbuh pesatnya media sosial, membuat proses belajar bahasa dan makna menjadi bergeser. Kadang gesernya sampai parah sehingga satu bangsa mayoritas bisa kehilangan denotasinya karena diblebeg informasi berjibun hingga ia akhirnya memahami apa pun dari opini dan membentuk aneka makna konotasi di kepalanya. Maka ketika ada yang menuliskan denotasinya, justru didebat dan diece ramai-ramai karena dianggap menyalahi keumumannya.

Dan begitulah nasib bahasa di hari ini. Sebagai mana nasib wayang yang mandeg di era Mataram. Dan nasib shirah yang kini hanya menjadi dongeng tentang kisah pemerintahan, peperangan, dan kemenangan. Padahal shirah adalah sebaik-baik inspirasi, ia realitas peradaban yang bicara tentang politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, teknologi, psikologi, dan berbagai aspek kehidupan dari manusia-manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi. Sayang, mencari kajian yang begitu komprehensif membedah kehidupan mereka itu susah sekali bukan.

Karena kajian itu ya begitu pokoknya. Kajian itu pokoknya begitu. Dan begitu. Itu pakemnya.

Surakarta, 5 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.