Menurut informasi sejarah yang sependek usia saya belajar ini, Mahatma Gandhi adalah tokoh yang berhasil memerdekakan India dari cengkeraman kolonialisme Inggris. Dia adalah salah satu tokoh inspiratif di abad 20 dari tanah hindustan itu. Kemampuannya menggerakkan masyarakat Indonesia bangkit membuat Inggris berhasil diusir dari tanah sejuta kuil itu.

Konon, perjuangan Gandhi tidak menggunakan kekerasan. Tetapi dia lebih banyak mendidik bangsa India untuk kembali menemukan ke-India-annya. Jika ditelisik, konsep kedirian yang diajarkan Mahatma Gandhi sebenarnya bukan bentuk primordialisme. Konsep tersebut sangat universal dan setiap bangsa bisa melakukan di setiap rentang zaman. Konsep ini pun sebenarnya bisa kita ambil untuk menyelamatkan kehidupan negeri ini jika kita mau dan bersungguh-sungguh ingin hidup merdeka.

Saya lupa nama-nama gerakan tersebut dalam bahasa Sanskrit. Tetapi intinya Gandhi mendidik masyarakat India untuk hidup secara natural sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kebudayaan mereka. Gerakan ini cukup ampuh untuk menghentikan laju kolonialisme yang kapitalistik. Kolonialisme Eropa kan kita kenal sebagai sistem yang menempatkan negara jajahan sebagai sumber penyumbang SDA sekaligus tempat pemasaran produk. Kerusakan yang ditimbulkan sistem eksploitasi semacam ini paling berbahaya jika menghancurkan eksistensi kebudayaannya, sehingga masyarakatnya menjadi tidak mampu lagi menjalani nilai-nilai kehidupannya sendiri seperti yang diwariskan pendahulunya. Mereka tidak mampu lagi menjalankan hidup dengan mengolah alam secara seimbang dan memproduksi barang-barang yang menjadi kebutuhan hidup mereka.

Maka dari itu, Gandhi mengembalikan kepercayaan diri masyarakat India agar kembali ke tatanan itu. Mereka dididik untuk menenun sendiri dan membuat pakaian dari hasil tenunan mereka sendiri. Mereka menghindari produk-produk Inggris yang dijual di India. Begitupun dalam budaya makan dan berbagai tawaran kebudayaan hedonis yang ditawarkan Eropa. Karena gerakan ini bersifat masif, tentu saja kaum pebisnis yang bergantung dengan sistem kolonialisme yang tengah dijalankan tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Akhirnya proses sosial yang masif ini membuat masyarakat India memiliki daya tawar baik secara politik dan sosial. Hingga akhirnya kita bisa melihat revolusi tersebut terjadi.

Konsep ini sebenarnya sangat universal jika sebuah bangsa ingin mempertahankan eksistensinya kembali. Tetapi semakin ke sini, dengan jerat pemikiran tentang modernisme, post-modernisme, globalisasi, dan berbagai idiom-idiom yang juga berangkat dari bekas negara-negara kolonialis yang kini menamakan diri sebagai negara maju itu, masyarakat di negara-negara korban kolonialisme sulit untuk move on dan bangkit dengan kedirian mereka.

Contohnya negeri kita ini, Indonesia atau lebih lengkapnya kawasan Nusantara. Begitu terjajahnya, begitu konsumtifnya, dan begitu musyriknya masyarakat kita dengan klenik modernisme, post-modernisme, dan segala yang berbau barat. Klenik bahwa pemikiran filsafat, konsep ekonomi, hingga tradisi sekuler-liberal kalau dari negara-negara Barat pokoknya top. Sehingga seolah-olah dalam dunia kebudayaan, sosial, pendidikan, dan semuanya kita tidak mampu berbuat apa-apa lagi kecuali harus tunduk dengan hegemoni mereka. Dan celakanya, para politisi negeri ini melengkapi kehancuran ini dengan berlaku sebagai pedagang. Dan saya pribadi sudah mulai ragu dengan para politisi negeri ini setelah generasi 1945. Apalagi di era pasca-reformasi, yang ada adalah pedagang, para penggila keuntungan. Baik ia berprofesi sebagai pejabat, politisi, bahkan kadang tokoh agama. Meskipun yang idealis dan tetap berusaha melawan kapitalisme modern ini juga tetap ada.

Begitu terjajahnya oleh klenik-klenik dan takhayul materialisme itu, kita pun menafikan ilmu-ilmu warisan leluhur kita. Misalnya pengobatan diluar pengobatan medis modern, langsung dianggap ilegal, bahkan tak jarang memperalat ulama dengan fatwa yang terburu-buru dan dikait-kaitkan dengan syirik. Tindakan masyarakat desa yang lugu tapi berdikari karena mereka memproduksi apa yang mereka konsumsi, diopinikan sebagai tindakan tradisional dan ketinggalan jaman. Sehingga menjadi orang desa yang mandiri hari ini adalah hal yang sulit dijumpai karena setiap orang terobsesi kemegahan kota, karena UANG dan KEMEWAHAN. Masalahnya, untuk mendapatkan semua itu kita harus beli dari asing, dan tidak mau memproduksi sendiri.

Cobalah kita sedikit berkhayal dengan radikal, seandainya Indonesia itu mengucilkan diri dari negara-negara di seluruh dunia ini sama sekali, adakah masalah serius yang terjadi? Paling kita tidak bisa mengakses internet, listrik byar pet, dan tidak ada siaran televisi. Burukkah itu bagi kita? Mari kita renungkan. Karena ini cuma khayalan tentu tidak akan ada ruginya. Santai saja.

Lalu kita tambahkan khayalan kita agar makin keterlaluan (maklum satu-satunya kemerdekaan mutlak yang masih mampu kita lakukan saat ini adalah beriman kepada Allah dalam hati dan berkhayal secara liar, perkara realisasinya mbuh). Jika pemerintah mau menasionalisasi aset-aset asing yang ada di Indonesia seiring dengan proses pengucilan massal itu. Siapa yang rugi?

Saya lalu berkhayal bagaimana Jepang dan Korea akan mengalami resesi ekonomi yang parah. Begitu pun Eropa dan Amerika, mereka akan kehilangan banyak pendapatan negara karena beberapa perusahaan mulitnasionalnya juga nggarong di sini. Dan kita menutup segala pintu-pintu pariwisata sehingga negara asing sama sekali tidak dapat menikmati keindahan alam syurga Nusantara ini, masihkah mereka menjumpai tempat semewah dan sebebas negeri kita?

Sekali lagi ini khayalan. Lalu kita kembali dengan sistem kehidupan agraris dan maritim seperti dahulu. Kita memanam apa yang kita makan, nelayan mencari apa yang akan dimakan. Kita belajar langsung dari alam, belajar dari gunung, awan, langit, matahari, dan segala warisan yang Allah titipkan kepada kita dari generasi pendahulu kita. Kita tidak sibuk lagi dengan berlomba-lomba untuk kaya, karena memang kita tidak perlu bersekolah untuk mengejar title-title aneh itu. Kita menjalani setiap hari terus bergerak, bahagia, berbaur dan menjalani kehidupan. Ini khayalan gila bukan, radikal, dan absurd. Pertanyaannya, pernahkah Anda berkhayal tentang kehidupan negeri seperti itu? Jika sama sekali belum, bahkan tidak mampu berkhayal ke sana, alangkah ruginya Anda. Bahkan piknikmu pun tak mampu membawa dirimu ke nuansa syurgawi itu.

Maka begitu kita bangun dari khayalan itu, kita sesungguhnya akan sadar bahwa keruwetan negeri ini sebenarnya karena tindakan kolektif kita sendiri yang tidak mampu menjaga nilai kehidupan. Kita tahu ada segelintir orang di negeri kita yang berkhianat dan berkongsi dengan kaum kapitalis itu. Tapi kita memilih untuk ikut hanyut karena segudang gengsi dan klenik modernitas yang terlanjur menjadi akidah baru kita. Maka label Islam yang kita sandang pun barangkali berangkat dari ideologi semacam ini. Sementara, negara-negara Barat yang mendaku modern sudah stress, sehingga dengan wajah modern mereka, sebagian kecil mereka mulai mribiki Islam dan akhirnya menemukan jalan pulang. Kita? Malah bikin dagelan dengan modernitas Islam. Kalau bicara prinsip modernisme, Islam sungguh-sungguh tatanan nilai paling modern yang akan mengatur kehidupan manusia secara fitrah (sesuai dengan garis ketetapan Allah).

Perlukah kita kemewahan-kemewahan artifisial itu jika gara-gara itu kita korupsi dan saling mencurangi? Perlukah kita gelar-gelar dan predikat kehormatan itu jika gara-gara itu kita menyontek, menipu, dan melakukan seabreg rekayasa? Bahkan bila perlu kita bertanya, perlukah kita membentuk sebuah negara modern, jika dengan negara semacam itu manusia tidak mampu berperilaku sebagai manusia lagi yang kata al-Quran ia yang mengenal Allah, merdeka bertindak, peduli pada keluarga, kerabat dan sesama manusia lainnya, yang adil dan bijaksana, dan seabrek definisi manusia “baik”, karena apa yang kita lihat dari konsep negara modern saat ini adalah bahwa manusia tidak percaya lagi dengan lainnya sehingga untuk menyelesaikan urusan bertetangga saja maka dipanggilah pihak kepolisian. Saya kadang bersyukur juga tinggal dinegara yang tidak karuan semacam ini, karena ladang pahala ikhlas kita besar sekaligus ini ajang pembuktian jadi manusia betulan.

Di negeri ini saat ini kita masih bisa menikmati segala kebebasan dan ke-ultraliberal-an itu secara cuma-cuma. Berapa lama lagi akan bertahan. Karena sekarang bahkan anak-ana atau adik-adik kita mulai tidak mengetahui jenis daun yang dia makan dan dia temui di perjalanan ke sekolahnya. Dia bahkan tidak tahu bedanya kicau burung pipit dengan kutilang, bahkan mungkin juga tidak tahu bahwa itu adalah burung.

Gandhi hanya mengajak bangsa India kembali ke kehidupan normalnya, dan ini bukan sesuatu yang mewah bukan? Dan jauh lebih lama dari itu, di jazirah Arab seorang manusia bernama Muhammad malah harus melakukan setting ulang atas sebuah komunitas yang tata nilainya hancur, minim sumber daya alam, dan gagal manajemen ekonomi sehingga terjadi kesenjangan sosial yang parah. Bagaimana dengan negeri ini? Tidak ada ceritanya para pemimpin besar negeri ini berabad-abad lamanya adalah orang yang hidupnya berlebih-lebihan. Dan tidak ada pembedaan apakah mereka adalah saudagar besar atau memang yang tidak memiliki kelebihan harta.

Itulah bahasa universal pemimpin besar di dunia ini dari masa ke masa. Sederhana, pejuang gigih, dan jujur. Bahwa kaya dan miskin itu sesuai dengan takdir rizki yang Allah berikan. Tetapi hakikatnya tidak ada mahkluk yang kekurangan rezeki karena itu sudah dijamin. Rasa kekurangan lahir karena ketiadaan rasa syukur dan kezaliman sistem sosial yang terjadi. Di negeri ini, korupsi adalah bentuk kezaliman sistem sosial dan kehidupan hedonis (baca: kakehan gaya) adalah bentuk ketiadaan rasa syukur.

Mari pikirkan lagi dengan bijak saat kita akan membeli apa pun. Apakah lusinan pakaian kita di lemari masih kurang? Apakah kita sudah butuh smartphone terbaru untuk aktivitas sebagai tukang ojek? Apakah kita harus makan 3 kali sehari dengan ayam KFC dan pepsi, jika jajanan di angkringan dan es teh sebenarnya lebih menyehatkan? Apakah Anda butuh tunjangan 20 miliar untuk sekedar tidur di kursi empuk Senayan wahai wakil rakyat. Terkadang urip ki kudu taren disik karo awakmu dhewe-dhewe, orang mung kerja kerja kerja, sembarang ditasak nunjang palang ra karuan.

Biaya hidup itu sangat murah, tapi gaya hidup membuat setiap manusia berubah menjadi kera yang rakus. Di saat itulah tragedi kemanusiaan terjadi, penjarahan, pembunuhan, bahkan hingga menjadi pembantaian massal dengan sadis. Sebuah kejahatan yang hanya pernah dilakukan manusia sepanjang massa. Bahkan gunung berapi, gempa bumi, dan angin pun saat membunuhi manusia atas perintah Allah melalui idiom yang disebut manusia sebagai “bencana” pun masih sangat beradab. Inilah mengapa manusia itu makhluk spesial, karena saat baik ia luar biasa, begitu pula saat jahatnya, ia sanggup melakukan kejahatan sedemikian sadisnya. Bahkah Iblis pun tak mampu melakukannya, karena pekerjaannya hanya menggoda.

Akhirnya, Gandhi dan ke-India-annya ini hanya sebuah pengantar kita untuk menemukan sisi kehidupan kita yang hilang, yakni menjadi MANUSIA.

Surakarta, 19 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.