Dalam bisnis, ada konsekuensi resiko, karena kadang untung dan kadang rugi. Itu berlaku untuk semua pihak yang bekerja sama. Sedangkan dalam riba, pintu resiko sangat minimal bahkan nyaris tidak ada, sehingga ada sekian pihak dalam kerja sama riba itu nyaris tidak akan menanggung resiko apa pun karena mendapatkan sebuah jaminan dari pihak yang lain.

Dalam kehidupan yang mengikuti roda bisnis yang sesuai sunnatullah, maka Allah akan memutar roda kekayaan seperti cakra manggilingan. Ada orang yang kaya, lalu rugi dan jatuh miskin, ada orang miskin suatu saat untung lalu menjadi kaya. Tapi dalam sistem riba, orang yang kaya akan semakin kaya, dan orang yang miskin akan tetap miskin, bahkan semakin miskin.

Jika konsep di atas hanya dipahami dalam skala desa atau wilayah kecil, sekilas hukum bisnis ideal masih berlaku di masyarakat kita. Tapi jika kita melihatnya dalam skala negara dan dunia, kita akan tahu bahwa sistem ribalah yang menguasai kita sepenuhnya. Sehingga suatu negara yang seharusnya makmur, malah terjebak hutang tanpa akhir. Negara yang aset SDA dan SDM-nya berlimpah justru menderita dan mengalami kesenjangan sosial.

Nah, dahulu kekayaan masih dapat diukur dengan emas. Sekarang paradigma itu bergeser ke uang kertas. Kini kita memasuki trend baru, uang dalam wujud angka. Dan dengan sebuah sistem yang kita yakini bersama karena terlanjur dilegalkan oleh orang-orang pintar di perguruan tinggi, kita akan terus berjuang memperebutkan angka-angka yang sebenarnya sama sekali tidak memiliki nilai intrinsik di dalamnya. Memang sangat aneh, tapi keanehan yang diimani bersama ya menjadi kenyataan. Dan itulah yang berlaku di kehidupan kita sekarang.

Baru di usia 25 tahun saya mengetahui bahwa uang yang sesuai sunnah Nabi adalah uang yang memiliki nilai intrinsik, bukan cuma sebatas dinar dan dirham seperti sekarang yang ujung-ujungnya malah jadi bisnis baru mengatasnamakan sunnah. Asal bernilai intrinsik, awet, dan mudah ditakar untuk disepakati, maka ia dapat dijadikan uang sunnah. Jadi, bagi yang lagi kenceng-kencengnya teriak ikuti sunnah-ikuti sunnah, maka periksalah uang-uang kita dulu, sudah sesuai sunnah? Padahal sunnah-sunnah lainnya baru terwujud dari pintu uang sunnah atau karya pribadi dari tangan sendiri. Jika uangnya tidak mengikuti sunnah, bagaimana mau bilang yang lainnya sudah sesuai sunnah. Diaku-akukan sunnah mah iya, hahaha. Sama aja kamu bilang pemilu hukumnya wajib tapi hakikat demokrasinya tidak kamu kaji dulu.

Berhentilah jualan agama, jika memang tidak mampu menjelaskan kenyataan yang sesungguhnya. Mending banyak istighfar dan menjalani hidup ini dengan berusaha selalu jujur agar tidak merugikan orang lain. Walau kita belum dimampukan melawan riba raksasa ini, dengan hidup jujur dan sewajarnya, kita sudah berbuat seperti burung hud-hud yang berusaha memadamkan api yang membakar Ibrahim walau hanya lewat sepercik air saja. Jujur itu tidak identik bloon, terkadang kita perlu bersiasat dengan pihak zalim, tapi jangan sekali-kali mencurangi saudara kita sesama pihak terzalimi dalam bertransaksi.

Dengan berkuasanya sistem riba dalam kehidupan kita secara global, sebenarnya kita tidak perlu kaget misalnya nanti Ahok menang, sekalipun umat Islam bertarung habis-habisan melawannya. Tidak perlu kaget jika Palestina terus diintimidasi sekalipun benderanya sudah berkibar di PBB. Ingat, permainan ini, mereka yang punya aturan, bukan kita. Sebagus-bagusnya kita bermain, mereka yang punya aturan. Dan itu akibat dari umat Islam yang masih suka berpecah belah dan meninggalkan sunnah kan. Ingat sunnah yang sejatinya, bukan sunnah yang dibranding-brandingkan untuk memecah belah umat Islam.

Juwiring, 23 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.