Masyarakat yang terbiasa melakukan produksi dari hulu ke hilir dan dikonsumsi sendiri tidak akan ruwet dengan problem benda impor yang nganu-nganu, tidak akan ruwet dengan problem sertifikat halal yang palsu, dan serangkaian kehebohan broadcast di WA, FB, dan segala sarana instan itu.

Dimana konsep ini dapat dibangun? di desa. Tapi mengapa justru sekarang kita digerakkan untuk menjadi kaum urban dan didoktrin untuk hidup di era industri. Mungkinkah ini semacam proses bunuh diri peradaban secara massal. Saat desa mati secara peradaban, maka di mana lagi kita jumpai tempat yang mandiri itu.

Kini desa-desa telah menjadi zona konsumsi yang tak kalah hebatnya dengan pemukiman kumuh di kota. Apakah kehidupan semacam ini yang akan dicita-citakan? Aku emoh. Do majua kana, nggaya praktis kari belanja di supermarket, bungkus makanannya keren tanpa kita mengetahui asal-usulnya. Begitu muncul kabar jare makanan A haram, makanan B berbahaya, ribut kabeh, njet NGO mulai mroyek dan cari muka. Ntut kabeh.

Ketidakmandirian berproduksi baik dalam hal pemikiran maupun barang membuat kita menjadi konsumen ideologis. Ideologi konsumerisme ini yang membuat kita mudah ribut dan diadu domba dalam hal apa pun. Termasuk hari ini, menyangkut pemerintah yang nganu-nganu. Padahal sebelum berdebat dan menuntut macam-macam terhadap pemerintah, pertanyaannya, benarkah pemerintah yang sedang memerintah di Indonesia ini memang pemerintah sungguhan yang berperilaku seperti seharusnya pemerintah?

Agar kita tidak buang-buang waktu dan misuh-misuhi pada hal-hal yang memang seharusnya tidak perlu dipisuhi.

Surakarta, 3 November 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.