Filosofi kepemimpinan Jawa “memangku” itu hari ini menjadi penting untuk dikaji dan diinternalisasikan. Rasulullah sendiri pun dahulu menerapkan kebijakan kepemimpinan semacam ini, di tengah kebudayaan Arab yang maskulin dan selalu unggul-unggulan, bila perlu dengan perang dan pembantaian. Cara memimpin yang “nganeh-anehi” ini, sering membuat Umar harus bertanya alasannya.

Maka, coba carilah mana perang yang dilakukan selama Rasulullah masih hidup yang identik dengan pembantaian brutal khas Arab (baik jaman sebelum Islam maupun era modern macam sekarang)? Dan mustahil orang-orang setelah Rasulullah, apalagi berabad-abad setelahnya mampu meniru cara perang beliau tersebut, yakni perang yang singkat dan efektif, fokus pada sasaran utama (melumpuhkan faktor penghambat dakwah), meminimalisir korban terbunuh, namun tetap menjaga keutuhan alam, menjamin kehidupan anak-anak, wanita, orang tua, dan pemuka agama.

Maka bukan saya anti perang, tetapi jika Rasulullah sendiri mengajarkan kehati-hatian itu, apa kita mampu merealisasikan perang mulia semacam itu. Bahkan saat beliau bisa membuat piagam Madinah dan piagam Hudaibiyah, nyatanya itu lebih beliau pilih dari pada harus ada pertumpahan darah. Jika mencermati isi piagam itu jelas sekali karakternya berbeda dengan tradisi Arab pada umumnya. Bangsa Arab umumnya sulit membuat kesepakatan politik, apalagi jika posisinya kalah superior dibanding lawan rundingnya. Apalagi jika martabatnya seolah-olah direndahkan, seperti yang terlihat di piagam Hudaibiyah.

Saya selalu terpesona dengan kisah perjalanan hidup Rasulullah. Keindahan kehidupannya baru benar-benar akan kita rasakan jika kita mencermati peradaban jazirah Arab dari masa ke masa. Kita akan melihat betapa beliau ini adalah permata bagi peradaban gurun yang panas, kering, dan selalu berirama perang dan pertarungan (meskipun kini tidak hanya identik Arab, selama ada nafsu kuasa dan harta, perang bisa terjadi di mana-mana, bahkan sesama saudara).

Memangku itu memang tidak mudah. Karena memangku itu harus siap menanggung beban. Paling gampang memusnahkan bebannya kan. Menampung aspirasi itu tidak mudah. Paling mudah, kalahkan aspirasi yang lain dengan segala macam cara, asal mereka lenyap. Itu kan cara kapitalistik, efisien, dan konon bagi yang haus dengan perang, itulah kenikmatan. Nggilani.

Surakarta, 1 Oktober 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.