Politik umat Islam di masa lalu itu sebenarnya sederhana. Silahkan para sultan berkuasa, tapi mereka cuma punya tentara dan birokrasi. Rakyat akan tetap setia bersama ulama. Jadi bagaimana penguasa memperlakukan ulama, di situ rakyat akan memperlakukan penguasa. Ketika penguasa diktator, pasti pada akhirnya akan ditumbangkan penguasa lain yang direstui ulama dan rakyat.

Seiring berjalannya waktu, muncullah ulama-ulama Suu’ yang indikasinya dilihat dari perilaku hidupnya sangat menuhankan materi dan mudah berselingkuh dengan para penguasa. Dan oleh Imam al Ghazaliy, ditegaskan bahwa kerusakan umat Islam dimulai dari ulama yang rusak, kemudian muncullah penguasa-penguasa diktator yang tidak punya penyeimbang yang sejati. Umat ditipu oleh para ulama Suu’ ini dan penguasa bebas berkuasa tanpa ada pengendalinya.

Semakin ke sini, umat Islam mengalami kebingungan dalam membaca realitas politik. Rakyat kehilangan imajinasi atas sosok ulama yang sejati, karena terlalu percaya pada simbol-simbol fisik yang dianggap merepresentasikan ulama. Sebagian lagi justru terjebak untuk percaya bahwa pemimpin sama dengan penguasa, karena menelan mentah-mentah ajaran demokrasi liberal Barat. Sebagian lagi tidak peduli dengan ulama dan penguasa karena orientasi utama hidupnya materialisme melalui syariat kapitalisme.

Kini kita memasuki puncak dari kesyirikan global seperti yang dicemaskan oleh Rasulullah bahwa beliau tidak pernah cemas lagi akan umatnya yang menyembah patung, tapi mereka akan menyembah dinar dan dirham. Untuk membuat patung, itu pasti merepotkan dan secara nalar modern sangat tidak efisien. Tapi menuhankan uang dan kekayaan, pasti mudah dilakukan karena hidup kita tidak lepas dari uang. Di situlah kita harusnya belajar bahwa kesyirikan tidak terletak pada persoalan bendanya, tapi pada pola pikir kita atas benda itu. Bagaimana kita akan meninggalkan uang, sementara itu adalah instrumen ekonomi kita. Yang bisa kita lakukan adalah membuat penegasan di pikiran kita bahwa uang hanyalah sarana yang kita perlukan untuk membangun interaksi ekonomi, bukan sebagai target pencapaian hidup.

Kita tidak perlu naif dengan bilang bahwa hidup tidak perlu uang, ya tetap perlu, bahkan sangat perlu. Karena kalau memang mau barter murni, hari ini nyaris susah dilakukan. Kalaupun kita inginnya barter, apakah lingkungan kita bisa menerimanya, tidak kan. Di situlah kita tetap harus memakai instrumen ribawi itu sembari memperbaiki pola pikir kita. Tidak hanya pada uang, kesyirikan bisa terjadi ketika kita percaya bahwa sains modern adalah solusi satu-satunya untuk manusia, percaya bahwa pil dan pemeriksaan medis modern adalah satu-satunya jalan kesembuhan, percaya bahwa demokrasi adalah satu-satunya cara penyelenggaraan negara yang paling benar dan akan menyejahterakan rakyat. Cara berpikir yang terpenggal-penggal dan tidak mampu menarik garis ke pusat gravitasi utama kehidupan, Allah azza wa jalla itulah yang menyebabkan kita mengalami kesyirikan betapa pun halusnya.

Bagaimana kita kembali menemukan ulama? Cari mereka yang mengikuti Rasulullah dalam banyak hal. Memang tidak mungkin sama persis, tapi pasti jika dia ulama dia akan berusaha meniru beliau. Yang hidupnya selalu dekat dengan rakyat. Yang memilih hidup sederhana sekalipun mampu bermegah-megahana dan memiliki akses di segala bidang. Yang selalu menerima semua pihak demi mewujudkan persatuan umat, bukan memfanatiki golongan mana pun sehingga menimbulkan pertentangan satu sama lain. Yang memperlakukan orang per orang sebagai sahabat dan anak-anaknya, bukan seperti raja yang berlaku feodal pada bawahannya. Yang lebih banyak memberi jawaban atas pertanyaan rakyat dari pada memberi ujaran menyuruh dan melarang-larang orang.

Kehidupan Rasulullah adalah kehidupan lelaku, bukan kehidupan simbolik. Akhlak Rasulullah adalah pada keseluruhan laku sehari-harinya, bukan semata-mata pada perkataannya. Bukankah Ummul Mukminin Aisyah telah meriwayatkan bagaimana beliau umpama al Quran yang berjalan di muka bumi atau dalam bahasa lain akhlak beliau adalah al Quran itu sendiri. Jika hari ini kita menemukan sosok demikian, sekalipun ia hanya seorang tukang sampah atau kuli bangunan, bukankah sosok-sosok seperti ini lebih pantas kita dudukkan sebagai ulama ketimbang mereka yang dipuji-puji tapi ternyata tak sanggup melawan dirinya sendiri sehingga terjebak pada kesombongan.

Juwiring, 7 Oktober 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.