Mendatangkan orang asing dengan bayaran berlipat menurut standar “internasional”, sebenarnya bukan hal baru.

Karena elit ekonomi kita juga terbiasa mengekspor barang-barang berkualitas tinggi dan mengedarkan barang-barang berkualitas rendah di pasar dalam negeri.

Dan betapa tololnya kaum intelektual yang mencari-cari alasan untuk membenarkan praktik aneh bin konyol semacam ini. Wis jelas kebijakan pekok, kok dibela-belain. Kowe dibayar piro emange?

Mbok sesekali demo yang beginian gitu lho. Apa ndak bisa to 15 juta orang mengerumuni Jakarta untuk soal-soal begini mulai dari pengangguran, pembangunan-pembangunan industri yang menggusur lahan rakyat dan merusak lingkungan, hingga korupsi yang sedemikian sadis.

Kita nggak ng-internasional yo jane ra popo. Penting masyarakat kita tumbuh sebagai peradaban yang wajar. Yang hidupnya bisa woles dan tidak dikejar waktu kayak sekarang. Mbah-mbah kita dulu itu kaum produsen murni, bukan produsen sambil mbakul.

Kenikmatan hidup mereka itu bertani, melaut, dll bukan pada mbakulnya. Sehingga hasil bertani dan melaut itu dikonsumsi sendiri dan untuk kebutuhan lokal dulu. Baru disalurkan keluar. Makanya mbah-mbah kita sekalipun punya teknologi tinggi (bagi kalian yang tidak percaya nggak apa-apa), mereka tidak eksploitatif kayak sekarang.

Kamu kira pulau Jawa hanya sebuah pulau yang padat penduduknya. Kamu kira Daendels beneran membuat jalan 1000 km dalam waktu 5 tahun. Hanya orang konyol yang percaya bualan sejarah itu. Jalan itu sudah ada jauh berabad-abad silam. Daendels dan para kolonialis yang tahu sejarah, tinggal resik-resik suket dan alang-alang saja. Lalu mereka ngeklaim sudah membangun jalan. Mirip sama …… (lanjutkan sendiri).

Bagaimana jika suatu saat kota-kota masa lalu yang sengaja ditimbun dengan tanah oleh leluhur kita itu terbuka ke publik. Bagaimana ketika jalan-jalan tol di pulau Jawa tidak bisa digagalkan dan berhasil terbangun, sehingga terkuak mengapa para investor begitu bergairah membangun jalan tol? Apakah gunung-gunung berapi hanya bercerita soal lahar panas dan penderitaan? Bukankah abu vulkaniknya saja membuat bumi begitu subur. Tidak penasarankah kita dengan kandungan-kandungan mineral yang ada di dalamnya?

Bangsa ini janjane cuma berharap agar para pemimpin kita itu tidak kakehan polah. Hidup wajar saja, woles, ra usah kakehan indeks-indeksan. Bangsa kita itu bisa hidup dengan nilai-nilai kewajarannya sebagai produsen. Cuma entah kenapa sekarang kita berubah drastis menjadi konsumen. Itu pun konsumen parah yang doyannya mengkonsumsi yang nggak-nggak. Contohnya, bokep dan game. Hahaha

Surakarta, 27 April 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.